infosawit

Tanam Sawit Diluar HGU, Aktivis GAMARI Bakal Tuntut PT Langgam Inti Hibrindo



Ketua PP GAMARI, Larshen Yunus
Tanam Sawit Diluar HGU, Aktivis GAMARI Bakal Tuntut PT Langgam Inti Hibrindo

InfoSAWIT, PEKANBARU - Paska hasil Sidak dari Rombongan Anggota Komisi 2 DPRD Provinsi Riau pada hari Kamis Siang (16/01/2020), di Kawasan Operasional PT Langgam Inti Hibrindo, yang berlokasi di Kabupaten Pelalawan, membuat salah seorang Aktivis Riau yang berasal dari Organisasi Presidium Pusat (PP) Gabungan Aksi Mahasiswa Alumni Riau (GAMARI) berang.

Pasalnya, dari hasil Sidak tersebut, Perusahaan PT Langgam Inti Hibrindo (LIH) didapati menanam Kelapa Sawit di luar areal Hak Guna Usaha (HGU) yang telah diberikan oleh Pemerintah. Sidak tersebut bakal menjadi bahan rujukan tambahan bagi Aktivis PP GAMARI, yang memang fokus pada masalah LHK (Lingkungan Hidup & Kehutanan) di Provinsi Riau.

Sebelumnya PP GAMARI, telah memiliki berkas data terkait masalah administrasi pengelolaan perkebunan kelapa sawit perusahaan tersebut, yang ditengarai bermasalah memgenai aspek legalitas administrasinya, maupun validasi HGU nya.

"Sebagai informasi awal, Media Center PP GAMARI telah merilis terkait Kepemilikan dan Penguasaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Seluas Lebih dari 9.024 Hektar yang sebahagian Lahannya tidak memiliki izin HGU,"  kata Ketua PP GAMARI,  Larshen Yunus, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (17/1/2020).

Lebih lanjut kata Yunus, informasi tersebut diperoleh dari pengukuran langsung dan juga diperkuat atas pengakuan pihak perusahaan melalui Humasnya, yakni terdapat lebih dari 500 Hektar Lahan milik PT Langgam Inti Hibrindo tersebut tidak memiliki izin HGU.

Kondisi ini membuat PP GAMARI bersama-sama dengan tim lainnya segera memroses gugatan sekaligus merekomendasikan PT Langgam Inti Hibrindo untuk di proses secara hukum dan juga dicabut izin perusahaannya, lantaran telah melakukan penggarapan lahan diluar izin HGU.

“Bagi kami, PP GAMARI tetap Konsisten dalam hal Penyelamatan Hutan di Riau ini. Selain Lusa Gugatan akan kami sampaikan, PP GAMARI juga merekomendasikan perusahaan itu di tutup sekaligus mempidanakan pemilik perusahaan,” katanya.

Sementara itu, perusahan melalui juru bicaranya Humas PT Cempaka Mas Abadi Grup (CMA), Yusman mengatakan, bahwa lahan perkebunan itu sudah beberapa kali di take over dan terakhir kalinya dilakukan pada pertengahan tahun 2018 yang lalu.

Sebelumnya perusahaan ini dulunya milik salah satu anak perusahaan Malaysia, setelah itu di take over pada tahun 2007 oleh PT Provident Agro dan setelah itu di take over lagi kepada PT CMA pada pertengahan bulan di tahun  2018, yakni sekitar bulan 6 di lahan tersebut sudah ditanami pohon kelapa sawit. "Iya benar pak, kami akui kekeliruan itu" tandas Yusman. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit