infosawit

8 Langkah Majukan Industri Sawit Nasional



8 Langkah Majukan Industri Sawit Nasional

InfoSAWIT, JAKARTA - Permintaan pasar negara tujuan ekspor akan produk minyak sawit mentah (CPO) dan turunanya, akan semakin meningkat setiap tahunnya, sejalan dengan dinamisasi perdagangan internasional. Terlebih, perdagangan bebas yang dilakukan, akan kembali mengerucut, kepada hubungan bisnis bilateral antar kedua negara, kendati ada payung perdagangan dunia dan regional.

Perdagangan internasional berbasis Free Trade Agreement (FTA) juga akan selalu diikuti dengan perjanjian perdagangan kawasan regional seperti CAFTA (China), AJCEP (Jepang), AIFTA (India) dan EU-ASEAN (Uni Eropa). Labih lanjut, hubungan dagang akan diperkuat kembali melalui jalur Prefential Tariff Agreement (PTA) antar kedua negara, dalam bisnis minyak sawit, terutama hubungan dagang antar produsen dan konsumen atawa eksportir minyak sawit.

Berbagai perjanjian ekonomi termasuk bisnis minyak sawit dan turunannya, bisa belajar dari berbagai persoalan perdagangan di masa lalu. Semisal, perjanjian China – ASEAN (CAFTA) tahun 2008, yang diperkuat melalui hubungan perdagangan bilateral Indonesia dan China, tahun 2009 hingga 2010 lalu. Dalam perdagangan bilateral itu, Indonesia kalah strategi dengan Malaysia yang memasukan produk turunan minyak sawit dengan kepala HS No. 15, yang menyebabkan produk turunan minyak sawit terkena tarif bea masuk ke pasar China.

Lemahnya strategi dan diplomasi perdagangan Indonesia, telah menyebabkan runtuhnya daya saing produk turunan minyak sawit ke pasar China, dimana hasil akhirnya menyebabkan terjadinya perbedaan tarif bea masuk, dimana produk Malaysia hanya terkena 10% sedangkan produk Indonesia masih terkena 16%, lantaran produk turunan minyak sawit Malaysia sudah masuk kedalam list Early Harvest Program (EHP) yang disepakati antara negara pada tahun 2008.

Baru pada tahun 2010 kemudian, produk turunan minyak sawit, bisa masuk kedalam EHP, setelah melalui perjuangan selama hampir dua tahun lamanya. Menyusul berbagai kasus perdagangan dengan negara lainnya, seperti Pakistan, India, Jepang dan Uni Eropa.

Minimnya pengetahuan dan bekal yang dimiliki Atase Perdagangan Pemerintah Indonesia, melulu jadi titik lemah dari diplomasi perdagangan ke negara-negara tujuan eksportir produk CPO dan turunannya. Guna meningkatkan pendapatan devisa negara dan memajukan industri sawit nasional di masa depan, maka pemerintah dan dunia usaha harus melakukan kerjasama erat, seperti :

Pertama, melakukan konsolidasi data minyak sawit nasional, yang meliputi keterbaruan dan akurasi data secara akuntabel dan transparan. Data mengenai luasan lahan perkebunan kelapa sawit, kepemilikan, perizinan, proses produksi, ketenagakerjaan, harus tersedia secara publik, guna menjadi referensi kondisi aktual industri sawit nasional, bagi setiap pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan. 

(lebih lengkap baca Editorial Majalah InfoSAWIT Cetak Edisi Desember 2019)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit