infosawit

PERUNTUNGAN SAWIT DI TAHUN TIKUS



PERUNTUNGAN SAWIT DI TAHUN TIKUS

Kendati iklim diprediksi bersahabat, di 2020 produksi minyak sawit justru diprediksi melambat, menyusul adanya efisiensi yang dilakukan pelaku usaha, termasuk faktor iklim setahun sebelumnya, dampaknya bisa saja harga meningkat. Berbeda dengan industri biodiesel yang terus melakukan ekspansi guna memenuhi pasokan yang terus melonjak, sementara industri oleokimia masih terkendala harga gas.

Melemahnya harga minyak sawit (CPO) di dunia  yang terjadi sepanjang awal 2018 hingga 2019, menjadi periode yang cukup menekan bagi industri kelapa sawit nasional. Bahkan pada kuartal I 2019 lalu beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit mulai banyak melakukan penghematan dan pengetatan ongkos produksi, utamanya dalam jumlah aplikasi pupuk.

Harga minyak sawit tercatat mulai ada peningkatan semenjak September 2019 lalu, yang puncaknya harga minyak sawit kembali melonjak mampu mencapai US$ 766/ton. Dikatakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, perlakuan hemat pada tahun 2019 lalu akan berdampak pada hasil produksi minyak sawit untuk setahun ini.

Ditambah sepanjang 2019 lalu musim kering tercatat lebih panjang dan waktu terjadinya lebih cepat. Kekeringan tersebut juga memiliki kontribusi pada penurunan produksi yang dampaknya akan mulai dirasakan 8 bulan sampai 1,5 tahun semenjak terjadinya kekeringan.

Sehingga pada tahun 2020 diperkirakan bakal ada penurunan produksi dibanding tahun 2019. Joko Supriyono tidak bisa menyebutkan berapa besar penurunan produksi tersebut, namun secara incremental (pertumbuhan produksi) akan ada pelambatan. . . . 

Bila biasanya peningkatan itu rata-rata mencapai 4 juta ton setiap 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit