infosawit

Menakar Kontribusi Sawit Dalam Melonjaknya Emisi Karbon



Menakar Kontribusi Sawit Dalam Melonjaknya Emisi Karbon

InfoSAWIT, JAKARTA - Tudingan terhadap sektor sawit masih saja terus berlangsung bahkan sudah masuk dalam ranah regulasi. Misalnya awal tahun 2019 lalu,  parlemen Uni Eropa justru mengusulkan kebijakan Arahan Energi Terbarukan (Renewable Energy Directive/ RED II), yang mewajibkan negara-negara di kawasan Uni Eropa mesti memenuhi 32% dari total kebutuhan energinya melalui sumber yang terbarukan pada 2030.

Dimana dalam aturan pelaksaaan teknis yang dikenal sebagai Delegated Act, berisi kriteria yang disebut dengan Indirect Land Use Change (ILUC), yakni metode yang digunakan Uni Eropa dalam RED II untuk menentukan besar-kecilnya risiko yang disebabkan tanaman minyak nabati terhadap alih fungsi lahan dan deforestasi.

Dalam hitungan ILUC, minyak sawit dianggap memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kerusakan lahan dan deforestasi. Demikian juga tudingan mengenai kontribusi sawit terhadap meningkatnya gas rumah kaca di dunia. Alasannya kelapa sawit berontribusi besar terhadap meningkatnya emisi karbon di atmosfir.

Padahal, industri sektor non-perkebunan kelapa sawit, seperti sektor transportasi, pertambangan yang lebih boros energi (bahan bakar minyak) dari minyak bumi serta industri manufaktur, ditengarai memiliki peran lebih besar lagi dalam mengotori udara bumi.

Maka bila alasan meningkatnya karbon akibat pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, nampaknya tudingan itu kurang tepat. Lantaran bila dilihat dari perubahan kawasan hutan menjadi areal pertanian dan perkebunan nasional dibandingkan negara lain pada periode 2000 hingga 2005, Indonesia hanya menggunakan kawasan hutan seluas 35 ribu sq km. Itupun kebanyakan digunakan untuk memenuhi pengembangan wilayah akibat pemekaran kabupaten atau provinsi.

Sementara untuk luas lahan yang digunakan perkebunan kelapa sawit hanya sekitar 14,3 juta ha, termasuk perkebunan sawit rakyat dan pemerintah. Selain itu sebagian besar dari kawasan yang dipergunakan tersebut berasal dari lahan penutupan bukan hutan atau semak belukar, padang ilalang, lahan terlantar dan sebagainya dari total luas daratan Indonesia sekitar 1,8 juta sq km.

Jauh dibanding dengan Rusia yang menggunakan tutupan kawasan hutan seluas 144 ribu sq km dari land area yang dimiliki sebanyak 16,3 juta sq km. Demikian pula Brazil, pada periode itu telah menggunakan kawasan tutupan hutan seluas 164 ribu sq km dari land area yang dimiliki sejumlah 8,4 juta sq km.

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan kawasan tutupan hutan di Indonesia masih dalam takaran normal. Lantas apa benar dengan pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit nasional, pada akhirnya pula membuat peringkat kontribusi emisi Indonesia berada diurutan teratas? (teguh Patriawan / Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Perkebunan Kadin Pusat)

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Cetak Edisi Februari 2020


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit