infosawit

RSPO dan Perubahan Perilaku Petani Sawit Swadaya



RSPO dan Perubahan Perilaku Petani Sawit Swadaya

Tak banyak petani yang langsung menerima praktik budidaya kebun sawit layak lingkungan, lantaran muncul beragam dugaan yang menganggap praktik tersebut tak bermanfaat. Padahal praktik tersebut membuka potensi peningkatan produksi dan menambah lumbung keuntungan.

Nampak gurat kegembiraan dari muka Pak Sakur, petani sawit swadaya yang memiliki lahan seluas 4 hektar berlokasi Desa Sungai Rangit Jaya, Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat.

Tatkala ia menerima kabar bahwa Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM), perkumpulan petani sawit swadaya yang diikutinya memperoleh sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).  Sakur  merasa bangga  menjadi sebagian kecil dari petani kelapa sawit yang telah berjuang untuk mendapatkan sertifikat minyak sawit berkelanjutan tersebut.

Pak Sakur adalah salah satu dari 38 anggota petani sawit swadaya yang tergabung dalam kelompok APKSM. Ia hanya sebagian kecil dari ratusan petani yang ada di desa tersebut, yang tertarik untuk bergabung dengan asosiasi dan mengikuti praktik budidaya sawit sesuai Prinsip dan Kriteria RSPO.

Ada beberapa hal yang menjadi  keengganan petani menyambut tawaran mengikuti  program RSPO lantaran muncul keraguan akan manfaat  yang diperoleh, mengumpulkan syarat administrasi dan sulitnya memenuhi undangan pertemuan. Meski sosialisasi program RSPO sudah dilakukan sejak tahun 2017 lalu oleh tim Smallholder dari PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., (SSMS), sebagai pendamping petani swadaya desa tersebut, umumnya para petani  masih ragu-ragu untuk menerima ajakan tersebut.

Padahal  untuk mengikuti program tersebut, cukup mudah. Petani hanya diminta untuk... (YB. Zainanto Hari Widodo/Grup Manajer Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri - APKSM)

Majalah InfoSAWIT Edisi Cetak Maret 2020 Rubrik Info Sustainability

 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit