InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) berpeluang kembali menembus level RM5.000 per ton pada kuartal I 2027, didorong potensi gangguan pasokan minyak bunga matahari serta perkembangan konflik Rusia-Ukraina.
Prediksi tersebut disampaikan Executive Director ISTA Mielke GmbH, Thomas Mielke, dalam diskusi panel pada Malaysian Palm Oil Forum (MPOF) Kuala Lumpur 2026, Selasa (7/10/2026).
Menurut Mielke, selain harga CPO Malaysia yang berpotensi kembali ke RM5.000 per ton, harga minyak sawit Malaysia untuk basis free-on-board (FOB) juga berpeluang mencapai US$1.300 per ton. Namun, waktu pastinya masih sulit dipastikan.
“Kita bisa dengan mudah kembali ke RM5.000 untuk harga CPO dan US$1.300 untuk harga minyak sawit FOB Malaysia. Pertanyaannya adalah kapan. Saya memperkirakan level tersebut dapat kembali dicapai paling cepat pada Januari,” kata Mielke dalam diskusi tersebut, dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Senin (12/10/2026).
BACA JUGA:Tingkatkan Produktivitas Sawit Rakyat, 118 Pekebun Jambi Dibekali Teknik Panen dan Pascapanen
Diskusi panel itu dimoderatori oleh anchor sekaligus koresponden CNN, Eleni Giokos, dengan menghadirkan Managing Director Glenauk Economics Dr Julian McGill dan Director Chemicals, Materials and Nutrition Frost & Sullivan Nikhil Vallabhan sebagai panelis.
Gangguan Minyak Bunga Matahari Jadi Katalis
Mielke menilai perkembangan pasokan minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam dapat menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak sawit ke depan.
Ketidakpastian yang berkaitan dengan konflik Rusia-Ukraina berpotensi mengganggu jalur perdagangan minyak bunga matahari. Jika pasokan komoditas tersebut semakin terbatas, minyak sawit berpeluang memperoleh tambahan permintaan dari pasar minyak nabati global.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 9–15 Oktober 2026 Turun, Tertinggi Rp3.621,16/Kg, Ini Daftarnya
Kondisi ini menjadi semakin relevan karena minyak sawit bersaing langsung dengan sejumlah minyak nabati lain dalam memenuhi kebutuhan pangan dan industri dunia.
Dengan demikian, perubahan keseimbangan pasokan pada minyak bunga matahari dapat menciptakan peluang bagi CPO, terutama apabila konsumen mencari alternatif untuk mengamankan pasokan minyak nabati.
Pertumbuhan Produksi Sawit Mulai Melambat
Di sisi pasokan, Mielke memperkirakan pertumbuhan produksi minyak sawit dunia akan mengalami perlambatan dalam beberapa tahun mendatang.
BACA JUGA: Konsumsi Biodiesel Melonjak, Stok Sawit Indonesia Susut 19,72% pada Agustus 2026
Pertumbuhan produksi tahunan global diproyeksikan hanya sekitar 1,3 juta ton atau lebih rendah dalam periode 10 tahun hingga 2030. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata pertumbuhan produksi tahunan sebesar 2,9 juta ton pada periode 10 tahun hingga 2020.
Melambatnya pertumbuhan produksi dapat menjadi faktor pendukung harga karena ruang untuk meningkatkan pasokan global semakin terbatas.
Namun, Mielke menilai posisi minyak sawit dalam pasar minyak dan lemak global tetap sangat kuat. Tahun ini, minyak sawit diperkirakan menguasai sekitar 31% pangsa produksi global minyak dan lemak serta sekitar 49% pangsa ekspor.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Salurkan Bantuan Nutrisi untuk 200 Penerima Manfaat di Rokan Hulu
Sawit Tak Lagi Bergantung pada Diskon Harga
Dominasi tersebut menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar global. Menurut Mielke, komoditas ini tidak lagi harus mengandalkan strategi harga murah untuk merebut pangsa pasar.
“Komoditas tersebut tidak lagi perlu merebut pangsa pasar melalui pemberian diskon harga, kecuali dalam periode yang relatif singkat ketika terjadi kelebihan pasokan sementara,” ujarnya.
Artinya, tekanan harga melalui diskon hanya dibutuhkan dalam periode tertentu ketika terjadi kelebihan pasokan sementara. Di luar kondisi tersebut, kekuatan fundamental minyak sawit dinilai cukup untuk mempertahankan posisinya di pasar global.
BACA JUGA: Malaysia Perluas Pasar Ekspor Sawit ke Afrika dan Timur Tengah, Petani Kecil Jadi Prioritas
Jika gangguan pasokan minyak bunga matahari semakin besar, sementara pertumbuhan produksi sawit dunia melambat, keseimbangan pasar dapat semakin mendukung harga CPO.
Proyeksi tersebut menjadi salah satu perhatian penting bagi industri sawit Indonesia dan Malaysia, terutama dalam menghadapi perubahan pola permintaan minyak nabati global hingga 2027. (T2)











