InfoSAWIT, BEIJING – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia turun untuk hari kedua pada Senin, (6/11/2023) terbebani oleh penguatan ringgit dan perkiraan adanya peningkatan persediaan pada Oktober.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Januari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 38 per ton atau terdapat penurunan sekitar 1,01%, menjadi RM 3,730 (US$ 799,06) pada awal perdagangan.
Nilai mata uang Ringgit= MYR, mata uang perdagangan sawit, naik 1,23% terhadap dolar AS, menjadikan komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
BACA JUGA: Berikut Faktor-Faktor yang Bakal Mempengaruhi Harga Minyak Sawit di 2024
Menurut survei Reuters pada Jumat kemarin, tercatat stok minyak sawit Malaysia pada akhir Oktober berada pada level tertinggi sejak Mei 2019, karena produksi yang lebih tinggi menutupi pertumbuhan ekspor dan meningkatkan persediaan selama bulan tersebut.
Produksi minyak sawit global kemungkinan akan turun tahun depan karena dampak dari pola cuaca El Nino sementara permintaan dari sektor minyak nabati dan energi akan meningkat, sehingga mendukung harga, kata analis industri pada Jumat lalu.
Sementara analis industri Dorab Mistry mengungkapkan, bahwa produksi minyak sawit Indonesia, diperkirakan akan turun setidaknya satu juta metrik ton pada tahun depan, sementara produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan tidak akan berubah.
BACA JUGA: PT Kayan Plantation Raih Penghargaan Benuanta Award Melalui Program Kayan Peduli
Masih dilansir Reuters, harga kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkode DBYcv1 tercatat turun 0,22%, sedangkan kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 turun 0,8%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,06%.
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran mereka bersaing guna memperoleh pangsa pasar minyak nabati global. (T2)



















