BPDP Tegaskan Komitmen Dukung Implementasi B50, Fokus Pada Tantangan Teknis hingga Ekonomi

oleh -1.551 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. BPDP/ Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman.

InfoSAWIT, JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat langkah menuju implementasi biodiesel B50, atau pencampuran 50% bahan bakar nabati ke dalam solar. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya forum strategis yang dipimpin langsung oleh Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, di Ballroom Gedung Surachman Tjokrodisurjo, Jakarta.

Pertemuan tersebut menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan lintas sektor—termasuk lembaga pemerintah, pelaku industri, lembaga riset, serta pihak teknis—untuk membahas hasil kajian terkini yang mencakup aspek teknis, pasokan, permintaan, serta dampak ekonomi dan fiskal dari implementasi B50.

Salah satu perhatian utama dari pemaparan awal adalah proyeksi produksi Crude Palm Oil (CPO) nasional. Kajian menyebutkan bahwa produksi tahun 2045 diperkirakan hanya akan mencapai 60 juta ton, jauh dari target yang diharapkan. Stagnasi produktivitas di sektor hulu, keterbatasan lahan baru, serta meningkatnya ancaman penyakit tanaman seperti Ganoderma, dinilai sebagai penyebab utama.

BACA JUGA: Model Koronisasi Jadi Terobosan IPB University Optimalisasikan Lahan Replanting Sawit

Sebagai respons, disarankan adanya extraordinary measures seperti peningkatan produktivitas tanaman, optimalisasi lahan terlantar, dan penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien.

Kebutuhan CPO domestik untuk mendukung skema B50 diperkirakan mencapai 17,5–18 juta ton, yang berpotensi menekan volume ekspor sawit. Kajian yang dilakukan KSO Sucofindo–Appertani memperkirakan bahwa penerapan B50 pada 2026 akan menyebabkan penurunan ekspor hingga 11,40% dibandingkan 2024, mengingat pertumbuhan produksi yang stagnan tidak sebanding dengan peningkatan konsumsi dalam negeri.

Dikutip dari BPDP, Kamis (31/7/2025), forum juga menyoroti ketergantungan Indonesia pada impor metanol yang menjadi bahan penting dalam produksi biodiesel. Impor katalis NaOH/KOH tercatat mencapai US$190 juta atau sekitar Rp2,85 triliun, berpotensi mengurangi keuntungan devisa dari program biodiesel.

BACA JUGA: DSNG Bukukan Lonjakan Laba 80% di Paruh Pertama 2025, Didukung Kinerja Solid Segmen Sawit dan Kayu

Guru Besar UNILA sekaligus anggota Komite Litbang BPDP, Prof. Udin Hasanudin, menyampaikan potensi besar dari bahan baku alternatif seperti EFB Oil, POME Oil, SBE Oil, dan UCO (used cooking oil). Potensinya diperkirakan mencapai lebih dari 2 juta ton, dan relatif bebas dari isu keberlanjutan seperti EUDR. Namun, diperlukan pengujian lebih lanjut serta penyusunan regulasi dan spesifikasi teknis untuk mendukung integrasi bahan baku ini ke dalam rantai produksi.

Dari sisi teknis, Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) mempresentasikan hasil uji berbagai campuran biodiesel, termasuk B35D15, B40D10, dan B50. Hasil terbaik saat ini ditunjukkan oleh B35D15, baik dari segi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, hingga efisiensi filtrasi. Namun, untuk penggunaan murni B50, diperlukan peningkatan kualitas biodiesel, terutama pada kandungan air, monogliserida, dan stabilitas oksidasi. Uji ketahanan operasional di lapangan juga menjadi agenda penting ke depan.

Studi ekonomi menunjukkan potensi defisit subsidi hingga Rp25 triliun dalam periode 2026–2027 jika B50 diterapkan tanpa penyesuaian. Oleh karena itu, BPDP mengusulkan pendekatan fleksibel terhadap blending ratio, mengikuti model dinamis seperti bioetanol di Brasil, dengan menyesuaikan proporsi campuran berdasarkan harga pasar CPO.

BACA JUGA: Link-AR Borneo Kenalkan “Teori U” untuk Membangun Kepemimpinan Transformatif Serikat Buruh Sawit se-Kalimantan

Kesiapan infrastruktur produksi dan distribusi, seperti kilang Green Refinery milik Pertamina di Cilacap dan Dumai, turut menjadi pertimbangan penting dalam implementasi nasional B50. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com