Harta Karun di Bawah Sawit, Peluang REE Senilai RM747 Miliar Mengemuka

oleh -23.191 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Lanskap perkebunan kelapa sawit.

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Dalam forum 37Th Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference & Exhibition (POC 2026) pada Februari lalu, Chairman IRGA Sdn Bhd sekaligus Advisor RSPO, M.R. Chandran, mengangkat isu yang tak biasa dalam diskursus sawit, potensi tambang Logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) di dalam area perkebunan kelapa sawit.

REE sendiri merupakan kelompok 17 elemen logam, terdiri dari 15 unsur lantanida—mulai dari lanthanum hingga lutetium—serta scandium dan yttrium. Meski namanya “jarang”, unsur ini justru menjadi komponen kunci dalam berbagai teknologi modern, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga perangkat elektronik canggih.

Chandran mengungkapkan, studi terbaru dari Jabatan Mineral dan Geosains Malaysia menunjukkan potensi nasional yang sangat besar. Cadangan REE di Malaysia diperkirakan mencapai 18,9 juta ton total rare earth oxides (TREO), dengan nilai mencapai sekitar RM747 miliar.

BACA JUGA: Kinerja Moncer Emiten Sawit Berlanjut, Namun Prospek 2026 Diprediksi Moderat

“Temuan ini menjadi signifikan karena sebagian besar deposit tersebut berada di kawasan perkebunan kelapa sawit,” ungkapnya dalam forum tersebut.

Fakta ini membuka peluang yang selama ini nyaris tak terpikirkan, integrasi antara sektor perkebunan dan pertambangan. Dengan luasnya areal sawit di Malaysia, tumpang tindih antara lahan budidaya dan potensi mineral menciptakan ruang baru untuk pemanfaatan lahan secara lebih optimal.

Konsep yang diangkat Chandran bukan sekadar eksplorasi tambang konvensional, melainkan pendekatan sustainable mining—pertambangan yang mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Dalam konteks ini, pengembangan REE di lahan sawit dapat memberikan dua sumber pendapatan sekaligus, tanpa harus membuka lahan baru.

BACA JUGA: Outlook Sawit 2026 Stabil, CSRA Tancap Gas Ekspansi dan Bidik Lahan Baru di Sumsel

Namun peluang ini juga membawa konsekuensi. Integrasi antara perkebunan dan pertambangan membutuhkan kerangka regulasi yang jelas, teknologi ekstraksi yang ramah lingkungan, serta standar keberlanjutan yang ketat—terutama mengingat sensitivitas industri sawit terhadap isu lingkungan global.

Di sisi lain, permintaan global terhadap REE terus meningkat, seiring transisi energi dan digitalisasi. Negara-negara berlomba mengamankan pasokan logam strategis ini. Dalam konteks tersebut, Malaysia memiliki posisi unik—bukan hanya sebagai produsen sawit, tetapi juga sebagai pemilik potensi mineral bernilai tinggi.

Bagi industri sawit, ini bisa menjadi babak baru. Selama ini, nilai tambah lebih banyak berasal dari hilirisasi produk turunan. Kini, nilai itu berpotensi datang dari bawah tanah—secara harfiah.

BACA JUGA: Komunikasi Korporasi sebagai Mitra Strategis Direksi

Jika dikelola dengan tepat, keberadaan REE di perkebunan sawit bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga strategi untuk memperkuat posisi industri di tengah tekanan global. Sebuah kombinasi yang, seperti disiratkan Chandran, bisa mengubah cara pandang terhadap masa depan sawit itu sendiri. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com