Petani Sawit Swadaya di Kutai Kartanegara Ubah Kompensasi Lingkungan Jadi Investasi Masa Depan

oleh -6.352 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera di Desa Muai, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memilih jalur berbeda dalam menyikapi kewajiban kompensasi lingkungan atas lahan sawit yang teridentifikasi dalam dokumen Land Use Change Analysis (LUCA).

InfoSAWIT, KUTAI KARTANEGARA — Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera di Desa Muai, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memilih jalur berbeda dalam menyikapi kewajiban kompensasi lingkungan atas lahan sawit yang teridentifikasi dalam dokumen Land Use Change Analysis (LUCA). Alih-alih membayar denda masa lalu, koperasi ini mengubahnya menjadi investasi yang menumbuhkan masa depan.

Ketua Koperasi, Jamaluddin, mengatakan angka 407,07 hektare yang harus dikompensasi tidak dilihat sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk memulihkan lingkungan dan membangun ekosistem berkelanjutan. “Kami tidak membayar masa lalu; kami menanam masa depan,” ujar Jamaluddin dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Sabtu (9/8/2025).

Dari pemikiran itu, koperasi memutuskan mendukung Kelompok Tani Organik Desa Muai yang beranggotakan 28 petani. Kelompok ini sejak awal telah mengelola kebun secara organik dan memanfaatkan limbah sawit, bahkan tanpa insentif. Dengan dukungan koperasi, mereka membangun fasilitas produksi pupuk organik di atas lahan 5.600 meter persegi, menciptakan Taman Desa Organik yang menggabungkan edukasi lingkungan, sumber pangan sehat, konservasi air, dan jalur hijau bagi warga.

BACA JUGA: Dorong Produktivitas dan Keberlanjutan, Disbun Sulbar Perkuat Sertifikasi Benih Kelapa Sawit

Inisiatif ini mencakup rumah produksi, kebun komunitas, sekolah lapang, serta lokakarya pengolahan limbah menjadi pupuk organik, bio arang, dan palm peat. Koperasi juga melibatkan pemerintah desa, masyarakat adat, dan perusahaan sawit sekitar untuk memasok bahan baku limbah, berbagi pengetahuan, dan mendorong ekonomi sirkular.

Langkah tersebut mendapat dorongan dari insentif penjualan kredit sertifikasi RSPO Independent Smallholder Certified Sustainable Palm Kernel Oil (IS-CSPKO) pada 2025. Seluruh kredit yang dihasilkan koperasi terjual kepada Nestlé, menghasilkan Rp 1,83 miliar.

Sebagian insentif ini dialokasikan untuk kompensasi lingkungan secara proporsional, berdasarkan luas lahan yang tercatat dalam LUCA. Formula yang digunakan menghasilkan angka Rp 56,17 juta, yang kemudian dialihkan untuk pembangunan fasilitas dan program pemulihan, bukan sekadar membayar denda.

BACA JUGA: PublicInvest Research: Harga CPO 2025 Diproyeksi di RM4.200, Permintaan Global Masih Lemah

Dana tersebut diwujudkan dalam ruang belajar, rumah produksi pupuk organik, kebun komunitas, dan taman desa. Semua fasilitas ini diharapkan menjadi warisan hidup yang memberi manfaat sosial, ekonomi, dan ekologis bagi generasi mendatang.

“Kami ingin membuktikan bahwa petani swadaya, jika diberi ruang dan kepercayaan, bisa menjadi pelopor transformasi. Bagi kami, keberlanjutan bukan soal siapa yang membayar paling mahal, tetapi siapa yang paling tulus bertindak,” tegas Jamaluddin.

Inisiatif Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera ini menjadi preseden bahwa insentif RSPO tidak hanya memberi nilai tambah ekonomi, tetapi juga mampu menjadi dasar transformasi sosial dan ekologis yang nyata di tingkat desa. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com