BMKG Prediksi Risiko Karhutla Meningkat pada September 2026, Jambi dan Sejumlah Wilayah Jadi Sorotan

oleh -825 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi perkebunan kelapa sawit saat musim kering.

InfoSAWIT, JAKARTA – Perkebunan kelapa sawit dan berbagai sektor berbasis lahan perlu meningkatkan kewaspadaan memasuki September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi risiko kemunculan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di sejumlah wilayah Indonesia, dengan September menjadi periode yang memiliki cakupan risiko paling luas dibanding Oktober dan November.

Merujuk InfoSAWIT dari Buletin Informasi Iklim Perkebunan untuk Komoditas Sawit yang diterbitkan BMKG, wilayah Indonesia pada September hingga November 2026 umumnya diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah. Pada September, sebanyak 75,05 persen wilayah Indonesia diprakirakan menerima curah hujan rendah, sedangkan hanya 1,81 persen wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.

Kondisi hujan juga diprediksi cenderung lebih kering dibanding kondisi normal. BMKG mencatat sekitar 87,19 persen wilayah Indonesia pada September 2026 diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal. Persentase tersebut masih cukup tinggi pada Oktober sebesar 81,60 persen sebelum menurun menjadi 62,30 persen pada November.

BACA JUGA: APHI-GAPKI Dorong Protokol Bersama agar Pemadaman Karhutla Lebih Cepat

 

September Jadi Periode Risiko Terluas

Dalam prediksi indeks kesesuaian iklim untuk kejadian titik panas karhutla, BMKG menyebut September 2026 sebagai bulan dengan cakupan risiko tertinggi selama periode September hingga November.

Risiko menengah dan tinggi pada September diprediksi tersebar di Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Jambi, dengan cakupan risiko menengah diprediksi mencapai sekitar 78 persen wilayah provinsi.

Selain Jambi, risiko menengah juga cukup luas diprediksi terjadi di Kalimantan Barat sekitar 45 persen, Nusa Tenggara Barat 42 persen, Sulawesi Barat 39 persen, Sulawesi Selatan 35 persen, serta Gorontalo sekitar 32 persen.

BACA JUGA: Keadilan dalam Penegakan Hukum Karhutla

Sementara itu, risiko tinggi terkonsentrasi sangat kuat di Kalimantan Selatan dengan cakupan sekitar 96 persen wilayah. Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai sekitar 84 persen, Sumatera Selatan 76 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung sekitar 73 persen.

Risiko tinggi juga diprediksi cukup luas di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.

BMKG menilai kondisi tersebut perlu direspons melalui peningkatan kesiapsiagaan, penguatan pemantauan titik panas, serta pengendalian aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

BACA JUGA: Harga CPO Tembus RM4.977 per Ton, B50 Indonesia dan Risiko El Niño Dorong Reli

 

Ketersediaan Air Tanaman Banyak Masuk Kategori Kurang

Selain risiko titik panas, kondisi ketersediaan air bagi tanaman juga menjadi perhatian. BMKG memprediksi pada periode September hingga November 2026 sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami tingkat ketersediaan air bagi tanaman dalam kategori kurang.

Pada September, wilayah dengan ketersediaan air kategori cukup masih terdapat di sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, serta sebagian wilayah Papua. Namun, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya diprediksi masuk kategori kurang.

Untuk wilayah Sumatera, BMKG memprediksi sebagian daerah masih memiliki tingkat ketersediaan air cukup pada September dan Oktober, sebelum cakupan wilayah dengan kondisi cukup meningkat pada November.

BACA JUGA: GAPKI Gelar Klinik ISPO di Kalbar, Kejar Target 100 Persen Anggota Bersertifikat

Namun, sejumlah kabupaten dan kota di Jambi juga diproyeksikan menghadapi kondisi ketersediaan air tanaman kategori kurang, termasuk Tebo, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Batanghari, dan Kota Jambi pada September.

Kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pelaku perkebunan untuk memperkuat pengelolaan air, pemantauan kelembapan lahan, dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan.

 

Risiko Mulai Menurun pada Oktober dan November

Memasuki Oktober 2026, cakupan risiko titik panas kategori menengah dan tinggi diprediksi mulai berkurang. Meski demikian, sejumlah wilayah masih memerlukan perhatian.

 


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com