Raksasa Agribisnis Dunia Kian Terkonsentrasi, Sawit Dunia Berada di Tengah Perebutan Kendali Rantai Pasok

oleh -209 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Lanskap perkebunan kelapa sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Ketika dunia menghadapi perubahan iklim, konflik geopolitik, gangguan perdagangan hingga volatilitas harga pangan, kekuatan perusahaan-perusahaan agribisnis global justru semakin terkonsentrasi. Sejumlah korporasi besar kini tidak hanya menguasai benih, pestisida, pupuk, dan mesin pertanian, tetapi juga memperluas pengaruhnya hingga perdagangan komoditas, pengolahan pangan, bioenergi dan rantai pasok minyak nabati, termasuk minyak sawit.

Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam laporan terbaru ETC Group dan GRAIN mengenai konsentrasi korporasi dalam sistem pangan dunia. Dalam laporan tahun 2025, kedua lembaga tersebut mencatat bahwa konsentrasi korporasi masih sangat tinggi di berbagai sektor pertanian. Lima dari enam sektor yang dikaji—benih komersial, pestisida, mesin pertanian, farmasi hewan, dan genetika babi—telah memenuhi karakteristik oligopoli, yakni ketika sejumlah kecil perusahaan menguasai porsi besar pasar global.

Dilansir InfoSAWIT dari laporan GRAIN dan ETC Group, Minggu (23/8/2026), konsentrasi tersebut menunjukkan bahwa sistem pertanian global semakin bergantung pada keputusan segelintir perusahaan besar, mulai dari teknologi produksi di tingkat kebun hingga jalur distribusi komoditas ke pasar internasional.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 21–27 Agustus 2026 Turun Rp12,91 per Kg

 

Empat Raksasa Kuasai Benih dan Pestisida

Di sektor benih komersial, empat perusahaan besar—Bayer, Corteva Agriscience, Syngenta, dan BASF—menguasai sekitar 50% pasar benih komersial dunia berdasarkan data penjualan 2024. Empat perusahaan yang sama juga menguasai sekitar 56% pasar pestisida global.

Bayer sendiri masih menjadi pemain terbesar dalam pasar benih komersial dengan pangsa sekitar 20%, disusul Corteva 17%, Syngenta 9%, dan BASF 4%. Sementara di pasar pestisida, Syngenta memimpin dengan pangsa sekitar 22%, diikuti Bayer 14%, BASF 11%, dan Corteva 9%.

Laporan tersebut juga menunjukkan perubahan strategi perusahaan agribisnis. Persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada benih dan bahan kimia pertanian, melainkan semakin masuk ke kecerdasan buatan, penyuntingan gen, data pertanian, dan teknologi digital.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Masih Withdraw pada Senin (24/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah

Penggunaan AI dalam pemuliaan tanaman, misalnya, dipandang mampu mempercepat proses pengembangan varietas baru. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga berpotensi memperbesar kendali perusahaan yang memiliki akses terhadap modal, teknologi, data, dan kekayaan intelektual.

 

Sawit Tidak Berdiri di Luar Konsentrasi Agribisnis

Meski laporan GRAIN dan ETC Group berfokus pada enam sektor utama pertanian dan tidak secara khusus membuat peringkat perusahaan kelapa sawit dunia, pola konsentrasi yang sama dapat dilihat dalam rantai pasok minyak nabati global.

Industri kelapa sawit modern telah berkembang menjadi bisnis yang sangat terintegrasi. Kendali perusahaan tidak berhenti di perkebunan. Rantai usaha dapat mencakup pembibitan, perkebunan, pabrik kelapa sawit, kilang, produksi minyak goreng, oleokimia, lemak khusus, biodiesel, pelabuhan, kapal, gudang, hingga jaringan perdagangan internasional.

BACA JUGA: GAPKI Perkuat Sinergi Cegah Karhutla, Siagakan Perusahaan Sawit Hadapi Musim Kemarau 2026

Dalam struktur seperti ini, perusahaan dengan rantai bisnis terintegrasi memiliki kemampuan lebih besar untuk mengelola pasokan, biaya logistik, akses pasar, serta nilai tambah dari setiap tahap pengolahan.

Salah satu pemain terbesar adalah Wilmar International, kelompok agribisnis yang berbasis di Singapura dan memiliki jaringan operasi luas di sektor minyak nabati, minyak sawit, pangan, oleokimia, hingga biofuel.

Berdasarkan laporan tahunan 2025, Wilmar membukukan pendapatan sekitar US$70,42 miliar dan laba bersih US$1,41 miliar. Grup ini memiliki lebih dari 1.000 fasilitas manufaktur di 36 negara dan wilayah serta jaringan distribusi yang menjangkau China, India, Indonesia, dan sekitar 50 negara serta wilayah lainnya.

BACA JUGA: APHI-GAPKI Dorong Protokol Bersama agar Pemadaman Karhutla Lebih Cepat

Dalam bisnis kelapa sawit, Wilmar menyatakan dirinya sebagai salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar dan pemain utama dalam pemurnian minyak sawit, pengolahan inti sawit, specialty fats, oleokimia, dan biodiesel di Indonesia dan Malaysia.

Per akhir 2025, total areal tertanam kelapa sawit Wilmar mencapai sekitar 234.334 hektare, belum termasuk sejumlah perkebunan melalui skema usaha patungan dan pengelolaan kebun petani kecil di Indonesia maupun Afrika.

 

Golden Agri, Rantai Terintegrasi dari Kebun hingga Lebih dari 110 Negara

Pemain besar lainnya adalah Golden Agri-Resources (GAR), salah satu kelompok perkebunan dan agribisnis sawit terintegrasi terbesar di dunia.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com