InfoSAWIT, PALEMBANG – Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan. Kemampuan pekebun dalam menerapkan praktik budi daya yang tepat, mulai dari pemilihan bibit hingga pengelolaan panen, menjadi faktor penting untuk mengoptimalkan hasil kebun secara berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi fokus pelatihan budi daya kelapa sawit bagi pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Program yang berlangsung pada 29 September hingga 4 Oktober 2026 di Palembang itu diikuti 176 pekebun dan merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, serta IPB Training.
Kabupaten OKU memiliki sekitar 72,9 ribu hektare perkebunan kelapa sawit, yang sebagian besar dikelola oleh pekebun rakyat. Besarnya areal tersebut menjadi potensi ekonomi daerah, tetapi optimalisasi produksi membutuhkan pengelolaan kebun yang lebih baik, bukan semata-mata penambahan luas tanam.
BACA JUGA: Ekspor Indonesia Agustus 2026 Tembus US$26,61 Miliar, Naik 6,72 Persen
Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, MM., CPC, menekankan bahwa produktivitas harus dibangun sejak tahap awal penanaman dan dijaga melalui pengelolaan tanaman secara konsisten. Pemilihan bahan tanam unggul menjadi fondasi, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada ketepatan praktik budi daya di lapangan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai kebijakan dan regulasi perkebunan, pemilihan bahan tanam unggul, pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga teknik panen.
Pembahasan juga mencakup berbagai persoalan yang kerap dijumpai pekebun, seperti mengenali bibit abnormal, menilai kondisi tanah, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, mengendalikan gulma, serta mengenali organisme pengganggu tanaman.
Pendekatan ini penting karena setiap tahapan budi daya saling berkaitan. Kesalahan dalam pemilihan bibit atau pemeliharaan tanaman dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas kebun ketika memasuki fase menghasilkan.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten OKU, Ir. Hendri Eka Putra, S.P., M.Si., IPM, mengatakan pelatihan bagi pekebun di wilayahnya telah dilaksanakan dalam tiga gelombang. Secara keseluruhan, sebanyak 451 pekebun telah mengikuti rangkaian program tersebut.
“Harapannya dengan dibekali ilmu, budidayanya lebih bagus, penanganan hasilnya lebih bagus, dan yang pasti produktivitasnya meningkat,” ujar Hendri, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Mingggu (4/10/2026).
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Oktober 2026 Naik, BK US$178 dan PE US$130,269 per Ton
Kebutuhan peningkatan kapasitas pekebun juga semakin relevan seiring berkembangnya minat masyarakat OKU terhadap kelapa sawit. Kondisi harga sawit yang relatif baik turut mendorong sebagian pekebun karet untuk mengembangkan atau beralih ke komoditas tersebut.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mengikuti kunjungan lapangan ke PT Duta Reka Mandiri. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada pekebun untuk melihat penerapan praktik budi daya secara langsung sekaligus menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi nyata di perkebunan.
Penguatan sumber daya manusia diharapkan dapat membantu pekebun mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola kebun, menggunakan sarana produksi secara efisien, menjaga kesehatan tanaman, serta meningkatkan kualitas hasil panen.
BACA JUGA: DSI Uji Platform NADI, Tata Kelola Ekspor Sawit Didorong Lebih Transparan
Dengan demikian, potensi luas perkebunan sawit rakyat di OKU dapat dioptimalkan melalui kombinasi bahan tanam berkualitas, praktik budi daya yang tepat, dan peningkatan kompetensi pekebun. Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha perkebunan dalam jangka panjang. (T2)



















