InfoSAWIT, JAKARTA – Peningkatan produktivitas dinilai menjadi prioritas untuk menjaga ruang tumbuh industri kelapa sawit Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan domestik dan tekanan terhadap ekspor. Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menilai penguatan kapasitas produksi perlu dilakukan tanpa bergantung pada perluasan areal perkebunan.
Dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026 bertajuk “Menjaga Ruang Tumbuh di Tengah Keseimbangan Baru”, yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026, IPOSS menyoroti percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan.
Daalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (16/10/2026), IPOSS memperkirakan areal PSR yang telah memasuki fase menghasilkan berpotensi menyumbang sekitar 0,94 juta ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 2% dari produksi CPO nasional.
BACA JUGA: Konsumsi Domestik Sawit Indonesia Diproyeksikan Lampaui Ekspor pada 2026
Kontribusi tersebut menunjukkan manfaat PSR mulai terealisasi. Namun, IPOSS menilai percepatan pelaksanaan program masih diperlukan agar dampaknya terhadap produksi nasional menjadi lebih besar.
Sejumlah langkah yang dinilai penting untuk mendorong percepatan PSR meliputi penguatan kelembagaan pekebun, peningkatan kualitas pendampingan, serta perbaikan proses pengusulan dan verifikasi.
Kebutuhan peningkatan produktivitas juga terlihat dari proyeksi produksi minyak sawit nasional sepanjang 2026 yang diperkirakan mencapai 52,4 juta ton, hanya meningkat 1,86% dibandingkan 2025. Pada saat yang sama, konsumsi domestik diproyeksikan naik 7,4% menjadi sekitar 27,1 juta ton, terutama didorong oleh peningkatan kebutuhan bahan baku biodiesel seiring implementasi B50 sejak Juli 2026.
BACA JUGA: Menkeu Dorong Investasi Swasta di Industri Sawit untuk Tingkatkan Produktivitas dan Lapangan Kerja
IPOSS juga memperkirakan produksi minyak sawit pada kuartal IV 2026 meningkat 15,6% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 13,3 juta ton. Namun, peningkatan tersebut lebih mencerminkan pergeseran distribusi produksi antarkuartal, bukan pemulihan kapasitas produksi yang bersifat struktural.
Dalam kondisi tersebut, peningkatan produktivitas menjadi penting untuk memperkuat kemampuan produksi nasional. IPOSS menegaskan bahwa menjaga ruang tumbuh industri sawit tidak cukup hanya dengan memperkuat permintaan domestik. Industri juga membutuhkan peningkatan efisiensi, kepastian usaha, dan akses pasar yang berkelanjutan.
Melalui Outlook Q4 2026, IPOSS mengajak para pemangku kepentingan melihat peningkatan produktivitas, ketahanan energi, dan keberlanjutan ekspor sebagai agenda yang saling mendukung dalam menjaga daya saing industri sawit Indonesia. (T2)



















