Terkait Transisi Energi Terbarukan, TPN Paslon Capres dan Cawapres Dianggap Belum Tawarkan Solusi

oleh -3.994 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT/Cangkang Sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Pada tanggal 10 Januari 2024, Traction Energy Asia, Trend Asia, dan Forest Watch Indonesia (FWI) menyelenggarakan diskusi daring dengan perwakilan Tim Pemenangan Nasional (TPN) pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029. Diskusi tersebut membahas transisi energi dari bioenergi, sebuah isu yang semakin mendesak seiring dengan kesepakatan negara-negara di Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim ke-28 (COP28) di Dubai, yang menargetkan Net Zero Emisi pada tahun 2050 dengan beralih ke energi terbarukan.

Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Direktur Eksekutif Traction Energy Asia, Tommy Pratama memaparkan, bahwa Indonesia mengalami tren kenaikan emisi gas rumah kaca yang signifikan dari tahun 1980 hingga 2020. Untuk merespons hal ini, transisi sumber energi rendah karbon dianggap sebagai langkah yang mendesak. Namun, Tommy Pratama menekankan perlunya membedakan energi terbarukan dengan energi rendah karbon, karena tidak semua energi terbarukan bersifat rendah karbon.

Sementara Manager Program Bioenergi Trend Asia, Amalya Reza Oktaviani, membahas tentang co-firing biomassa sebagai solusi pengganti batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Meskipun diakui dapat mengurangi emisi, Amalya Reza menilai co-firing biomassa sebagai solusi palsu dalam transisi energi. Ia menjelaskan bahwa penggunaan biomassa, terutama pelet kayu, sulit diperoleh secara berkelanjutan dan berdampak negatif pada keberlanjutan hutan.

BACA JUGA: Sawit Bisa Lindungi Pekerja Perempuan, Regulasi Memagari

Anggi Putra Prayoga, Manager Kampanye, Advokasi, dan Media FWI, membahas konsekuensi tata kelola hutan dan lahan terkait pengembangan bioenergi. Produksi biomassa untuk co-firing di 52 PLTU di Indonesia diproyeksikan dapat menyebabkan kehilangan hutan alam seluas 4,65 juta hektare, yang memiliki peran penting sebagai penangkap karbon dan ruang hidup masyarakat.

Drajad Wibowo dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran menyatakan, bahwa program transisi energi yang mereka tawarkan adalah yang paling realistis dan feasible. Meskipun menyadari potensi energi geothermal dan surya, Drajad menganggap bahwa biomassa merupakan opsi yang rasional dalam jangka pendek. Pendapat ini direspons oleh Anggi Putra Prayoga, yang menyatakan bahwa mengandalkan biomassa dalam jangka pendek akan membawa dampak negatif terhadap lingkungan dan keuangan.

Irvan Pulungan dari TPN 01 Anies-Muhaimin (AMIN) menyampaikan niatnya untuk mengevaluasi program bioenergi melalui penyelidikan lingkungan dengan melibatkan inventarisasi. Namun, Anggi Putra Prayoga menilai pendekatan ini terlalu teoritis dan normatif, serta menekankan perlunya fokus pada audit kinerja transisi energi secara menyeluruh.

BACA JUGA: Memahami Lokasi Lahan yang Cocok Untuk Perkebunan Kelapa Sawit

Agus Hermanto dari TPN 03 Ganjar-Mahfud mengakui adanya tantangan dalam perjalanan transisi energi dan menyadari opsi sumber daya selain pelet kayu, seperti minyak goreng bekas, singkong, dan kacang-kacangan. Namun, Anggi Putra Prayoga menilai bahwa TPN 03 tidak memiliki komitmen yang jelas terkait nol deforestasi dalam transisi energi dan tetap menggunakan bioenergi tanpa pijakan yang tepat.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com