Kondisi Buruh Sawit Masih Jauh Dari Kesejahteraan

oleh -1505 Dilihat
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. Sawit Fest 2021/foto: Andi Qudratullah.

InfoSAWIT, BOGOR – Industri perkebunan sawit di Indonesia telah menjadi pilar penting dalam perekonomian negara, menyediakan pekerjaan bagi jutaan orang. Namun, di balik kontribusinya yang besar, kondisi sosial buruh perkebunan sawit masih jauh dari kesejahteraan yang diharapkan. Bahkan, kelompok perempuan dalam industri ini rentan mengalami ketidakadilan dan eksploitasi.

Menurut Zidane, seorang Spesialis Buruh dari Sawit Watch, kondisi lapangan menunjukkan bahwa perempuan buruh seringkali berstatus sebagai Buruh Harian Lepas (BHL), yang tidak memiliki kejelasan hubungan kerja dengan perusahaan. Akibatnya, hak-hak yang seharusnya mereka terima sering kali tidak terpenuhi. Bahkan, kekerasan dan pelecehan seksual masih merupakan masalah yang dihadapi perempuan di perkebunan sawit.


Lebih lanjut, perempuan buruh juga rentan terhadap paparan bahan kimia berbahaya selama bekerja, seperti penggunaan pupuk dan racun, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mereka, terutama sistem reproduksi. “Oleh karena itu, perlu diciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan mensejahterakan bagi buruh sawit, terutama perempuan, harus menjadi prioritas bagi perusahaan dan pemerintah,” kata Zidan dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

BACA JUGA: Pemda Konawe Utara Siap Dukung Industri Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

Sementara, Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo menekankan, perlunya pemerintah untuk memperhatikan suara dan keberadaan buruh kebun sawit serta mengatur kebijakan ketenagakerjaan yang lebih berpihak kepada mereka. Namun, ia juga menyayangkan bahwa kebijakan UU Cipta Kerja justru melanggengkan praktik kerja informal bagi buruh sawit, yang semakin memperburuk kondisi mereka.

Tidak hanya itu, kebijakan anti deforestasi Uni Eropa (EU Deforestation Regulation/EUDR) juga perlu diperhatikan agar tidak merugikan kelompok buruh kebun sawit. ”Pemerintah Indonesia dan Komisi EU diharapkan dapat bertanggung jawab dalam memastikan bahwa implementasi EUDR tidak memberikan dampak negatif pada kesejahteraan buruh kebun sawit ke depannya,” katanya.

BACA JUGA: Cara Mengendalikan Hama Tikus di Perkebunan Kelapa Sawit

Dengan demikian, tutur Rambo, perlu adanya upaya serius dari semua pihak terkait, baik perusahaan, pemerintah, maupun lembaga internasional, untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan kesejahteraan buruh perkebunan sawit, terutama perempuan, sehingga mereka dapat merasakan manfaat dari industri yang telah memberikan kontribusi besar bagi negara tersebut. (T2)

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com