InfoSAWIT, JAKARTA — Kinerja ekspor komoditas minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya kembali menjadi tumpuan utama surplus neraca perdagangan Indonesia. Sepanjang Januari hingga Juni 2025, ekspor sawit mencatatkan nilai fantastis sebesar US$11,43 miliar, melonjak 24,81 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian ini menjadi salah satu motor penggerak utama surplus dagang nasional.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia tetap kokoh di zona positif, mencatat surplus sebesar US$19,48 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini. Angka ini tumbuh US$3,90 miliar lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2024. Dengan capaian ini, Indonesia membukukan 62 bulan berturut-turut surplus sejak Mei 2020.
“Surplus ini didorong terutama oleh kinerja ekspor nonmigas, yang memberikan kontribusi surplus sebesar US$23,81 miliar,” ungkap Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Minggu (3/8). Sebaliknya, sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$8,83 miliar.
Secara total, ekspor Indonesia mencapai US$135,41 miliar, sementara nilai impor tercatat US$115,94 miliar. Kinerja ekspor ini tumbuh 7,70 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama senilai US$107,60 miliar, naik 16,57 persen dibanding tahun lalu.
Sawit Ungguli Batubara
Kenaikan signifikan ekspor CPO menjadikannya sebagai salah satu dari tiga komoditas nonmigas dengan kontribusi ekspor terbesar. Bersama besi dan baja (US$13,79 miliar, naik 9,79 persen) serta batubara (US$11,97 miliar, turun 21,09 persen), ketiganya menyumbang hampir 29 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Meski ekspor batubara mengalami penurunan tajam, performa sawit mampu mengisi celah tersebut. Capaian ini menegaskan kembali peran strategis CPO sebagai tulang punggung ekspor nasional, terutama di tengah fluktuasi harga komoditas global.
BACA JUGA: Indonesia-Kanada Perkuat Diplomasi Pertanian, Dorong Ekspor Sawit ke Pasar Global
Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia tak berubah: Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Ketiganya menyerap sekitar 41,34 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Juni 2025.
Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$29,31 miliar (22,83 persen), didominasi oleh produk besi baja, bahan bakar mineral, dan nikel. Amerika Serikat berada di urutan kedua dengan US$14,79 miliar (11,52 persen), disusul India US$8,97 miliar (6,99 persen), yang menjadi pasar penting bagi produk CPO Indonesia.
Melihat tren positif ekspor sawit dan penguatan sektor industri pengolahan, pemerintah optimistis surplus neraca dagang akan tetap terjaga hingga akhir tahun. Namun demikian, ketergantungan terhadap pasar global menuntut kewaspadaan terhadap volatilitas harga dan dinamika geopolitik.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Ubah Limbah Jadi Berkah untuk Lingkungan dan Produksi
Dengan ekspor CPO yang terus menanjak, industri kelapa sawit nasional menunjukkan resiliensinya dalam menopang ekonomi, sekaligus mempertegas peran strategis sektor ini dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan Indonesia. (T2)




















