“Kalau pasar domestik menyerap lebih banyak CPO, ekspor pasti berkurang. Padahal dana BPDP untuk subsidi biodiesel itu berasal dari pungutan ekspor. Ini kontradiktif — kebutuhan subsidi naik, tapi sumber dananya malah turun,” jelas Alpian.
Jika pemerintah menaikkan pungutan ekspor untuk menutup defisit subsidi, dampaknya justru akan dirasakan langsung oleh petani. Berdasarkan hitungan POPSI, setiap kenaikan pungutan ekspor sebesar US$50 per ton CPO dapat menurunkan harga Tandan Buah Segar (TBS) petani sekitar Rp45 per kilogram.
“Kalau pungutan dinaikkan lagi, petani yang paling menderita,” ujar Alpian.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Dirikan Pusat Riset Drone dan Remote Sensing, Gelar INSTIPER Drone Festival 2025
POPSI mendesak pemerintah untuk meninjau ulang prioritas penggunaan dana BPDP agar lebih berpihak pada petani sawit rakyat. Saat ini, mayoritas dana digunakan untuk mendukung industri energi, sementara kebutuhan riil petani seperti bibit unggul, pupuk, infrastruktur, dan peremajaan kebun belum terpenuhi secara optimal.
“Dana BPDP harus kembali pada tujuan awalnya, yaitu untuk kesejahteraan petani sawit rakyat. Petani harus menjadi subjek utama, bukan sekadar penonton dari kebijakan biodiesel,” tegas Mansuetus Darto menutup pernyataannya. (T2)


















