InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Stok minyak sawit mentah (CPO) Malaysia kembali menanjak pada November dan mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari enam setengah tahun. Kenaikan tersebut terjadi di tengah melemahnya ekspor dan tingginya produksi, menurut data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB), dirilis Rabu.
Sebagai produsen sawit terbesar kedua di dunia, naiknya inventori Malaysia diperkirakan akan memberi tekanan tambahan pada harga CPO di bursa Malaysia, yang belakangan bergerak di dekat level terendah lima bulan.
MPOB mencatat stok sawit Malaysia pada November meningkat 13% dibandingkan Oktober, menjadi 2,84 juta ton—level tertinggi sejak Maret 2019. Sementara produksi CPO turun 5,3% menjadi 1,94 juta ton, angka tersebut tetap menjadi produksi November tertinggi sejak 2017.
BACA JUGA: Pabrik Sawit Tanpa Kebun Inti di Sumsel Jadi Perhatian, Dinilai Picu Transaksi TBS Ilegal
Di sisi lain, ekspor sawit Malaysia anjlok cukup tajam. Pengiriman ke pasar global turun 28,1% menjadi 1,21 juta ton, memutus tren kenaikan selama dua bulan berturut-turut.
Perkiraan awal jajak pendapat Reuters sebelumnya memprediksi stok akan berada di level 2,66 juta ton, dengan produksi sekitar 1,98 juta ton dan ekspor 1,44 juta ton. Realisasi di luar ekspektasi ini memperlihatkan tingginya tekanan pasokan di pasar.
Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Kamis (11/12/2025), menurut Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group berbasis di Mumbai, momentum produksi yang masih kuat membuka peluang produksi sawit Malaysia menembus 20 juta ton untuk pertama kalinya pada 2025. Jika itu terjadi, harga CPO berpotensi berada di bawah tekanan tambahan.
BACA JUGA: Pakistan–Indonesia Perkuat Kerja Sama, Perdagangan Sawit Jadi Penopang Utama Hubungan Bilateral
Selama 25 tahun terakhir, produksi sawit Malaysia pada Desember rata-rata turun 8,9% dibandingkan bulan sebelumnya. Meski begitu, pelaku pasar menilai tekanan tahun ini bisa lebih besar karena kompetisi harga dengan Indonesia.
Seorang pedagang berbasis Mumbai menyebut ekspor Malaysia pada Desember juga diperkirakan menghadapi tantangan, menyusul kebijakan Indonesia yang menurunkan biaya ekspor sawit. Jakarta memangkas pajak ekspor CPO menjadi US$74 per ton pada Desember, dari US$124 pada November lalu—membuat harga sawit Indonesia lebih kompetitif di pasar global.
Dengan kombinasi tingginya stok, turunnya ekspor, serta persaingan harga dari Indonesia, tekanan pada pasar sawit Malaysia diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. (T2)



















