Pendekatan Kolaboratif Dinilai Kunci Antisipasi Bencana di Sumatra

oleh -1.444 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Wakil Rektor III Universitas Sumatra Utara (USU), Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., didampingi Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk sumarto, saat membuka acara di USU, Medan.

InfoSAWIT, MEDAN – Isu perubahan iklim global kian nyata dan tak terbantahkan secara ilmiah. Perubahan pola curah hujan, meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, serta dinamika sistem iklim regional telah memperbesar risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra. Menghadapi tantangan tersebut, pendekatan kolaboratif lintas pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana.

Wakil Rektor III Universitas Sumatra Utara (USU), Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., menegaskan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mengantisipasi risiko bencana ke depan.

“Kita harus dapat merumuskan pendekatan kolaboratif untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana. Perguruan tinggi perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner, bukan sekadar apa yang tampak di permukaan,” ujar Prof. Poppy saat membuka Diskusi Ilmiah di kampus USU, dihadiri InfoSAWIT, Selasa (10/2/2026).

BACA JUGA: Menuju B50, DEN Nilai Biodiesel Jadi Game Changer Ketahanan Energi Nasional

Diskusi ilmiah bertema “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni dua Guru Besar Fakultas Pertanian USU, Prof. Dr. Abdul Rauf dan Prof. Dr. Diana Chalil, serta Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan.

Kegiatan ini juga dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah, petani sawit, hingga asosiasi industri. Tampak hadir Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto dan Ketua GAPKI Sumatra Utara, Timbas Prasad Ginting.

Prof. Poppy menilai diskusi tersebut mengangkat topik yang strategis sekaligus sensitif, terutama bila dikaitkan dengan kerugian besar yang dialami masyarakat dan daerah akibat bencana hidrometeorologi.

BACA JUGA: Dari Petani Sawit Mandiri Menjadi Mitra, Menuju Kemakmuran

“Forum ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga ruang refleksi bersama atas tantangan besar yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai masyarakat Sumatra. Dalam diskusi ini, kita ingin mencari titik temu dari berbagai tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab ketidakseimbangan alam, dengan realita dan fakta ilmiah yang sebenarnya,” katanya.

Menurutnya, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada penghujung 2025 lalu telah menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan ekologis yang nyata. Namun, perubahan iklim global juga berinteraksi dengan berbagai faktor lokal, seperti tata guna lahan, sistem hidrologi, perencanaan wilayah, serta praktik pengelolaan sumber daya alam.

Dalam konteks tersebut, sektor perkebunan kelapa sawit kerap menjadi sorotan publik. Di satu sisi, terdapat tudingan bahwa ekspansi sawit berkontribusi terhadap ketidakseimbangan ekosistem dan meningkatnya kerentanan banjir. Di sisi lain, industri sawit juga memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan jutaan masyarakat, termasuk petani kecil dan tenaga kerja.

BACA JUGA: Akademisi UMS Ungkap Pergeseran Hutan Alam ke Kebun Sawit

“Dialektika yang sehat bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk menemukan pemahaman yang komprehensif dan solusi yang konstruktif,” tegas Prof. Poppy.

Ia berharap diskusi ilmiah ini dapat menjadi ruang untuk mengkaji secara objektif hubungan antara perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatra, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

“Dengan pendekatan evidence-based policy, keputusan yang diambil tidak hanya responsif terhadap tekanan opini publik, tetapi juga efektif dalam melindungi masyarakat dan lingkungan. Universitas memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, dan jembatan dialog antar pemangku kepentingan,” pungkasnya. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com