Riset Unila dan Naysor Korea Selatan Kembangkan Pelet Biomassa Sawit Rendah Abu untuk Dukung Energi Hijau

oleh -240 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan energi hijau melalui kerja sama riset internasional dengan perusahaan asal Korea Selatan, Naysor Co., Ltd.

InfoSAWIT, BANDAR LAMPUNG – Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan energi hijau melalui kerja sama riset internasional dengan perusahaan asal Korea Selatan, Naysor Co., Ltd. Kolaborasi ini difokuskan pada hilirisasi hasil penelitian untuk mengembangkan proses manufaktur komersial pelet biomassa berbahan baku tandan kosong kelapa sawit (Empty Fruit Bunches/EFB).

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi sumber energi terbarukan yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung transisi menuju energi rendah emisi.

Ketua Tim Joint Research sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Unila, Prof. Udin Hasanudin, menjelaskan bahwa proyek ini diarahkan untuk menjawab tantangan global terkait kebutuhan energi bersih melalui inovasi teknologi pengolahan limbah kelapa sawit.

BACA JUGA: Rakernas AKPSI 2026: Gorontalo Perkuat Hilirisasi Sawit, Tonny Junus Dorong Kemitraan untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Menurutnya, tim peneliti mengembangkan teknologi wet ash removal yang diterapkan dalam produksi EFB-based ashless pellets, yaitu pelet biomassa dengan kandungan abu sangat rendah dan kualitas pembakaran yang lebih baik dibandingkan pelet biomassa konvensional.

“Produk yang kami kembangkan memiliki kadar abu yang sangat rendah dengan nilai kalor yang lebih tinggi. Selain itu, teknologi ini dirancang untuk mengurangi potensi gangguan operasional pada boiler industri, terutama akibat fenomena slagging dan fouling,” ujar Prof. Udin, dilansir InfoSAWIT, dari Unila, Kamis (9/7/2026).

Selama ini, pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan bakar biomassa masih menghadapi tantangan karena tingginya kandungan mineral alkali seperti kalium, natrium, silika, dan klorin. Senyawa tersebut dapat memicu pembentukan kerak dan korosi pada boiler, sehingga menurunkan efisiensi pembakaran sekaligus meningkatkan biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas industri.

BACA JUGA: Sawit dan Kutukan Kejayaan

Melalui inovasi wet ash removal, tim peneliti Unila menerapkan proses pencucian berbasis air (leaching) untuk melarutkan dan mengurangi kandungan mineral alkali pada EFB. Pendekatan ini terbukti mampu menekan kadar abu secara signifikan sehingga menghasilkan biomassa dengan karakteristik yang lebih sesuai untuk kebutuhan industri energi.

Selain meningkatkan kualitas bahan bakar biomassa, teknologi tersebut juga diharapkan dapat memperluas pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki daya saing di pasar internasional.

Kolaborasi antara Unila dan Naysor Co., Ltd. yang berkedudukan di Seoul menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kapasitas riset perguruan tinggi Indonesia di tingkat global. Kerja sama ini juga menunjukkan bahwa hasil penelitian akademik memiliki peluang besar untuk dihilirisasikan menjadi produk komersial yang memberikan nilai ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan biomassa sawit sebagai energi alternatif. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com