Kemdiktisaintek dan Pertamina Jajaki Bioetanol 2G dari Tandan Kosong Sawit

oleh -254 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Kemdiktisaintek bersama PT Pertamina (Persero) jajaki pengembangan bioetanol generasi kedua berbahan baku limbah biomassa industri kelapa sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Potensi tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai sumber energi terbarukan kembali mendapat perhatian. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina (Persero) mulai menjajaki pengembangan bioetanol generasi kedua atau second generation bioethanol (2G) berbahan baku limbah biomassa industri kelapa sawit tersebut.

Penjajakan ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto beserta jajaran dengan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza dan jajaran, Rabu (19/8/2026).

Salah satu agenda utama dalam pembahasan tersebut adalah kemungkinan pembangunan pilot plant bioetanol 2G dalam skala kecil. Kemdiktisaintek membawa hasil komunikasi awal dengan Praj Industries dari India yang menawarkan teknologi pengolahan biomassa serta sejumlah opsi pengembangan fasilitas percontohan.

BACA JUGA: Cegah Kekerasan Seksual, Komite Gender di Perusahaan Sawit Didorong Diperkuat

Menteri Brian Yuliarto mengatakan pengembangan dalam skala kecil diperlukan untuk memahami karakteristik TKKS yang tersedia di Indonesia sebelum teknologi tersebut diterapkan secara lebih luas.

“Kita coba dulu dalam skala kecil, supaya kita bisa memahami betul parameter tandan kosong kelapa sawit Indonesia dan memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya yang kita miliki,” ujar Brian, dalam keterangah resmi ditulis InfoSAWIT, Minggu (23/8/2026).

 

TKKS Sawit Berpeluang Jadi Bahan Baku Energi

Indonesia memiliki ketersediaan biomassa kelapa sawit yang besar. Salah satunya adalah TKKS yang selama ini dihasilkan dari proses pengolahan tandan buah segar di pabrik kelapa sawit.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 19–25 Agustus 2026 Naik, Usia 10–20 Tahun Rp3.917,50 per Kg

Pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah hasil samping industri sawit tanpa memerlukan pembukaan lahan baru. Potensi bahan baku tersebut juga berasal dari berbagai wilayah perkebunan, termasuk kawasan perkebunan rakyat.

Pengembangan bioetanol 2G dari biomassa sawit ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi, mendorong hilirisasi, serta mengoptimalkan sumber daya domestik sebagaimana menjadi bagian dari arah pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita.

Pertamina sendiri telah memiliki pengalaman riset dalam pemanfaatan TKKS bersama sejumlah mitra. Dalam pertemuan tersebut, perusahaan energi nasional itu turut membahas berbagai tantangan teknis, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga pengembangan teknologi pre-treatment dan penggunaan enzim.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Kamis (20/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Masih Menguat

“Tujuan kami, kalau bisa kita punya teknologi sendiri. Kita punya potensi bahan baku yang besar, sehingga teknologinya juga perlu kita kuasai,” kata Oki Muraza.

 

Tak Hanya Teknologi, Pasokan TKKS Jadi Tantangan

Kemdiktisaintek dan Pertamina menilai keberhasilan pengembangan bioetanol berbasis TKKS tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi. Aspek ketersediaan, pengumpulan, harga, hingga distribusi bahan baku juga menjadi bagian penting yang harus disiapkan sejak awal.

TKKS tersebar di berbagai sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Karena itu, model tata kelola bahan baku perlu dirancang agar pasokan biomassa dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang proporsional bagi pelaku usaha maupun masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II Agustus 2026 Tertinggi Rp3.853,40/Kg, Ini Daftar Plasma dan Swadaya

Kedua pihak juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Keterlibatan kalangan akademisi diharapkan dapat memperkuat penguasaan teknologi, pengembangan model bisnis, sistem logistik, hingga tata kelola industri bioetanol berbasis biomassa.

Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri, pengembangan teknologi bioetanol generasi kedua diharapkan tidak berhenti di laboratorium. Tahap penelitian tersebut selanjutnya didorong menuju hilirisasi dan penerapan industri agar potensi biomassa kelapa sawit Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus mendukung kemandirian energi nasional. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com