Perusahaan Sawit Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla Sebelum Puncak Kemarau 2026

oleh -5.510 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Pelatihan penanganan karhutla di perusahaan sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026 mendorong perusahaan perkebunan kelapa sawit memperkuat langkah pencegahan sejak jauh sebelum memasuki periode puncak kekeringan. Kesiapsiagaan dilakukan melalui penguatan sarana pemadam, pemantauan titik panas, patroli lapangan, hingga kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat di sekitar areal perkebunan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan karhutla di kawasan perkebunan sawit tidak hanya dilakukan ketika kebakaran telah terjadi. Sejumlah perusahaan justru mulai meningkatkan kewaspadaan sebelum kondisi cuaca menjadi semakin kering, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi.

Salah satu perusahaan yang memperkuat kesiapsiagaan tersebut adalah Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) di Kalimantan Tengah. Menjelang musim kemarau 2026, perusahaan meningkatkan koordinasi dan kesiapan penanganan karhutla di seluruh wilayah operasionalnya dengan melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat sekitar.

BACA JUGA: Memutus Lingkaran Setan Bencana Karhutla dan Asap

Kesiapsiagaan BGA dilakukan di tiga wilayah operasional utama, yakni Pundu, Kotawaringin, dan Mentaya. Dalam kegiatan tersebut, perusahaan berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, Manggala Agni, serta tim pemadam kebakaran internal.

Dengan luas wilayah operasional sekitar 184 ribu hektare, yang terdiri atas 66 persen kebun inti dan 34 persen kebun plasma, penguatan sistem pencegahan karhutla menjadi bagian penting dari pengelolaan perkebunan. Kesiapan tersebut diperlukan untuk melindungi lingkungan sekaligus memastikan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan tetap berjalan.

Dilansir InfoSAWIT dari Tabengan Online, Kamis (4/6/2026), langkah yang dilakukan BGA mencakup pemeriksaan sarana dan prasarana pemadaman, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, simulasi penanganan kebakaran, serta penguatan koordinasi di lapangan. Dengan demikian, apabila muncul indikasi kebakaran, respons dapat dilakukan sedini mungkin.

BACA JUGA: Penelitian: Emisi CO2 Tanah Meningkat pada Tiga Tahun Awal Perkebunan Sawit di Lahan Gambut

Upaya pencegahan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional. BGA menjalankan program Desa Bebas Api dan memperkuat kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai bagian dari sistem pengawasan berbasis masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi titik api sekaligus memahami bahaya pembukaan lahan dengan cara membakar. Peran warga menjadi penting karena masyarakat merupakan pihak yang berada paling dekat dengan wilayah rawan dan dapat menjadi mata pertama dalam mendeteksi munculnya indikasi kebakaran.

Sepanjang 2026, BGA menggandeng 12 desa di sekitar wilayah operasional Kalimantan Tengah untuk memperkuat pencegahan karhutla berbasis masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun sistem respons yang lebih cepat sekaligus meningkatkan ketahanan desa dan kawasan perkebunan menghadapi musim kemarau.

BACA JUGA: GAPKI dan PWI Perkuat Sinergi Pers untuk Dorong Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

 

Astra Agro Perkuat Pencegahan Karhutla di Riau

Kesiapsiagaan serupa juga dilakukan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melalui unit usahanya di Provinsi Riau. Perusahaan menegaskan komitmen pencegahan karhutla dengan mengedepankan prinsip no burning atau tanpa bakar.

Komitmen tersebut diperkuat melalui partisipasi perusahaan dalam Apel Siaga Pencegahan Karhutla di Pekanbaru, Jumat (25/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan koordinasi multipihak dalam menghadapi meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan bahwa risiko karhutla pada 2026 perlu diantisipasi secara serius. Kondisi curah hujan yang menurun dan potensi musim kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan kerawanan kebakaran, terutama di wilayah Riau yang memiliki kawasan gambut luas.

BACA JUGA: Mendag Dorong Hilirisasi dan Keberlanjutan Industri Sawit untuk Perkuat Daya Saing Global

Bagi perusahaan perkebunan, kondisi tersebut membuat pencegahan menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengandalkan pemadaman ketika api telah muncul. Pengelolaan tata air gambut, pemantauan kondisi lahan, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian dari strategi mitigasi.

Vice President Corporate Communication Astra Agro, Mochamad Husni, menyebut perusahaan telah menghentikan pembukaan lahan baru sejak 2015, baik di kawasan gambut maupun mineral. Pengelolaan lahan selanjutnya dilakukan dengan pendekatan pemantauan teknis, termasuk pengukuran Tinggi Muka Air Tanah (TMAT), pemantauan curah hujan, dan pengawasan subsidensi sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain pengelolaan gambut, Astra Agro memperkuat kesiapan operasional melalui pemeriksaan sarana dan prasarana pemadam, optimalisasi menara pantau, pembangunan embung, patroli terpadu, serta pemantauan hotspot berbasis teknologi.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com