Koperasi Belayan Sejahtera Anggota RSPO Libatkan Petani Swadaya dalam Pencegahan dan Penanganan Karhutla

oleh -353 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamaluddin (kiri), Head of Smallholders, Roundtable on Sustainable Palm Oil/ RSPO, Guntur Cahyo Prabowo (kanan).

InfoSAWIT, JAKARTA – Petani sawit swadaya tidak hanya menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga kerap menjadi pihak yang disorot ketika bencana tersebut terjadi. Di tengah anggapan yang mengaitkan perkebunan sawit dengan kebakaran, sejumlah petani justru terlibat langsung dalam upaya pencegahan hingga pemadaman di tingkat tapak.

Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamaluddin, mengatakan petani sawit swadaya kerap menjadi sasaran tudingan setiap kali terjadi kebakaran hutan maupun bencana lingkungan lainnya. Menurutnya, gambaran yang berkembang di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Ia menilai, persoalan karhutla perlu dilihat secara lebih menyeluruh, terutama dari aspek tata kelola lahan dan kesiapan masyarakat menghadapi musim kemarau. Sebab, kebakaran menjadi ancaman yang berulang setiap tahun dan dapat menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, termasuk petani sawit.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Riau Periode 4–10 November 2026 Turun, Umur 9 Tahun Rp3.729,47 per Kg

“Petani sawit swadaya sering kali langsung dikaitkan sebagai aktor utama karhutla. Padahal, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Petani juga berjibaku menghadapi kebakaran dan berupaya mencegah api meluas,” ujar Jamaluddin, Konferensi Pers disela acara RT RSPO 2026, dihadiri InfoSAWIT, Selasa (3/11/2026).

 

Pelatihan dan Kesiapsiagaan Sejak Agustus

Menghadapi potensi kebakaran pada musim kemarau 2026, Koperasi Belayan Sejahtera mulai memperkuat kegiatan pencegahan sejak Agustus. Pelatihan dan sosialisasi dilakukan secara intensif dari desa ke desa di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Wilayah tersebut mencakup 11 desa. Sosialisasi tidak hanya menyasar anggota koperasi, tetapi juga masyarakat umum, termasuk warga yang tidak tergabung dalam kelompok petani bersertifikat.

BACA JUGA: RSPO Dorong Pengawasan Berbasis Data untuk Menekan Risiko Karhutla

Jamaluddin menjelaskan, langkah antisipasi dilakukan setelah masyarakat mulai melihat tanda-tanda musim kering, seperti berkurangnya curah hujan dan mulai mengeringnya sejumlah mata air. Koperasi kemudian mengintensifkan edukasi mengenai bahaya kebakaran, termasuk larangan membuka lahan dengan cara membakar sesuai prinsip sertifikasi keberlanjutan.

Selain sosialisasi, koperasi juga memperkenalkan penggunaan kompor portabel untuk mengurangi risiko penggunaan api secara terbuka ketika petani beraktivitas di kebun.

Koperasi turut melatih kelompok tani peduli api agar memiliki kemampuan dasar dalam menghadapi kebakaran. Pelatihan tersebut diarahkan untuk membangun kesiapan masyarakat, mulai dari mengenali risiko hingga melakukan penanganan awal ketika api muncul.

BACA JUGA: Tatkala Energi Menyerap Minyak Nabati

 

Petani Turun Langsung Padamkan Api

Kesiapan tersebut kemudian diuji ketika kebakaran terjadi di belakang kantor koperasi pada September 2026. Menurut Jamaluddin, api bermula dari aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merambat ke tumpukan kayu di sekitar lokasi.

Peristiwa itu menjadi pengalaman langsung bagi anggota koperasi untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan. Mereka bersama-sama melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan.

Dalam kejadian lainnya, anggota koperasi juga beberapa kali turun membantu penanganan kebakaran di sekitar perkebunan petani. Dalam satu bulan, mereka tercatat sekitar tiga hingga empat kali terlibat dalam upaya pemadaman.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II Oktober 2026 Turun, Usia 10–20 Tahun Jadi Rp3.476,09

Jamaluddin menceritakan, salah satu kejadian berlangsung sejak sore hingga malam hari. Sekitar 20 orang, mulai dari pengurus koperasi, pengurus kelompok tani, hingga pengangkut hasil panen, ikut terlibat dalam penanganan kebakaran.

Dengan peralatan pemadam api ringan (APAR) milik sendiri, mereka berupaya mengendalikan api. Tantangan semakin besar karena sumber air berada cukup jauh, sekitar dua kilometer melalui jalan setapak.

Pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Meski kelelahan, keterlibatan anggota dinilai menjadi bukti bahwa petani swadaya juga memiliki peran penting dalam penanganan karhutla di wilayahnya.

BACA JUGA: KOLEGA dan Jalan Panjang Pengembangan UMKM Desa

 

Pembukaan Lahan Tanpa Membakar

Di sisi lain, Jamaluddin mengakui masih terdapat masyarakat yang menggunakan metode pembakaran untuk membuka lahan pertanian, terutama untuk penanaman padi. Menurutnya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan sumber penghidupan.

Karena itu, koperasi berupaya menawarkan alternatif agar masyarakat tetap dapat membuka lahan tanpa menggunakan api. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memfasilitasi penggunaan alat berat dengan skema pembayaran berjangka.

Biaya pembukaan lahan menggunakan alat berat diperkirakan berkisar Rp7 juta hingga Rp13 juta per hektare. Nilai tersebut memang membutuhkan kemampuan finansial masyarakat, tetapi Jamaluddin menilai pilihan tersebut lebih aman dibandingkan pembukaan lahan dengan cara membakar yang berisiko memicu kebakaran dan berhadapan dengan konsekuensi hukum maupun konflik sosial.


Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com