InfoSAWIT, JAKARTA – Perubahan pola iklim menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pergeseran kondisi cuaca, perubahan suhu permukaan laut, serta distribusi curah hujan dapat memengaruhi tingkat kerawanan kebakaran di berbagai wilayah Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, menyoroti kondisi iklim yang tidak selalu berjalan normal dalam periode tertentu. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa dinamika iklim, termasuk perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, berkaitan dengan pergerakan massa udara dan distribusi uap air yang memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.
Kondisi tersebut perlu dicermati karena risiko karhutla tidak selalu muncul secara seragam di seluruh wilayah. Waktu terjadinya musim kering, intensitas hujan, serta karakteristik lahan dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Dengan demikian, penentuan periode rawan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan pola musim pada tahun-tahun sebelumnya. Pemantauan kondisi cuaca dan data kerawanan wilayah perlu dilakukan secara berkala agar langkah pencegahan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.
Pemetaan kerawanan perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah
Indonesia memiliki wilayah dengan karakteristik lingkungan yang beragam. Sejumlah kawasan memiliki lahan yang mudah mengering ketika curah hujan menurun, sehingga membutuhkan perhatian lebih dalam pengelolaan risiko kebakaran.
Dalam konteks tersebut, informasi mengenai kondisi cuaca perlu dipadukan dengan data tutupan lahan, kondisi vegetasi, ketersediaan sumber air, serta riwayat kejadian kebakaran. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan, pemerintah, dan masyarakat menentukan lokasi yang memerlukan pengawasan lebih intensif.
BACA JUGA: Kebakaran Lahan Rawa Merembet ke Kebun Sawit Plasma di Tulang Bawang, 50 Pohon Sawit Terbakar
Pencegahan juga perlu dimulai sebelum kebakaran terjadi. Deteksi dini, patroli pada kawasan rawan, pemeriksaan sumber air, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian penting dari sistem mitigasi.
Dalam acara yang digelar Forwatan diikuti InfoSAWIT, awal Oktober 2026 lalu, Soewarso juga menyoroti juga perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dalam menghadapi persoalan karhutla. Pengalaman dari kejadian sebelumnya perlu menjadi bahan evaluasi agar upaya pencegahan tidak berhenti pada penanganan api ketika kebakaran sudah meluas.
Bagi sektor kehutanan dan perkebunan, termasuk industri kelapa sawit yang beroperasi di wilayah rawan kebakaran, pemahaman terhadap perubahan kondisi lingkungan menjadi bagian penting dalam pengelolaan operasional.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Selasa (20/10/2026), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Pada akhirnya, mitigasi karhutla membutuhkan kombinasi informasi iklim, pemetaan risiko, kesiapan lapangan, dan koordinasi antarpihak. Dengan perencanaan yang berbasis data, langkah pencegahan diharapkan dapat dilakukan lebih awal dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. (T2)

















