KOLEGA dan Jalan Panjang Pengembangan UMKM Desa

oleh -293 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Bumitama Agri/ Melalui KOLEGA Ekonomi Produktif, Bumitama Gunajaya Agro (BGA) mendorong pelaku usaha binaan memperkuat tata kelola, memperluas akses pasar, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah.

InfoSAWIT, JAKARTA – Dari usaha keripik pisang hingga pertanian hidroponik, UMKM desa terus tumbuh di tengah berbagai keterbatasan. Melalui KOLEGA Ekonomi Produktif, Bumitama Gunajaya Agro (BGA) mendorong pelaku usaha binaan memperkuat tata kelola, memperluas akses pasar, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah

Di sebuah desa, sebuah usaha sering kali bermula dari hal sederhana. Pisang yang tumbuh di kebun diolah menjadi keripik. Lahan pekarangan dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya berkembang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.

Bagi masyarakat desa, usaha-usaha tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi. Di dalamnya terdapat sumber pendapatan keluarga, pemanfaatan potensi lokal, sekaligus harapan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

BACA JUGA: HR CPO November 2026 Turun 6,07 Persen, Bea Keluar Ditetapkan US$124 per Ton

Namun, perjalanan sebuah usaha kecil tidak selalu mudah. Ketika produksi mulai meningkat dan pasar mulai terbuka, persoalan baru muncul. Bagaimana mengelola keuangan? Bagaimana memenuhi legalitas? Bagaimana menjaga kualitas produk? Ke mana produk harus dipasarkan? Dan, ketika membutuhkan tambahan modal, dari mana pembiayaan dapat diperoleh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang banyak pelaku UMKM di pedesaan.

Di tengah tantangan itu, Bumitama melalui program Komunitas Lingkungan Eksternal Binaan BGA (KOLEGA) Ekonomi Produktif, yang menjadi bagian dari Bumitama Berdaya, membangun pendekatan pendampingan untuk membantu kelompok usaha masyarakat mengembangkan potensi ekonominya.

BACA JUGA: RSPO Sebut Mayoritas Kebakaran Lahan di Indonesia Terjadi di Luar Konsesi Sawit

“Pendekatan tersebut diawali dengan pemetaan sosial di 114 desa di sekitar wilayah operasional perusahaan. Dari pemetaan itu, pendampingan disusun dengan mempertimbangkan karakteristik, potensi, serta kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” ungkap manajamen BGA, belum lama ini.

Namun, bukan menyeragamkan jenis usaha, melainkan membuka ruang agar masyarakat dapat bertumbuh berdasarkan kekuatan yang telah mereka miliki.

 

Dari Potensi Desa Menjadi Kekuatan Ekonomi

Hingga Juli 2026, KOLEGA Ekonomi Produktif telah mendampingi 45 kelompok binaan yang melibatkan 288 anggota di 32 desa di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

BACA JUGA: Taruhan Baru Pabrik Sawit Teknologi Dry Process, dan Penerimaan Pasar

Jenis usaha yang dikembangkan pun beragam. Hortikultura, peternakan, perikanan, pengolahan pangan hingga kerajinan tangan tumbuh mengikuti karakter dan sumber daya yang tersedia di masing-masing wilayah.

Keragaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa potensi ekonomi desa tidak memiliki satu bentuk. Setiap wilayah memiliki sumber daya, keterampilan dan peluang pasar yang berbeda.

Karena itu, pengembangan UMKM membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana sebuah kelompok usaha dapat membangun fondasi bisnis yang lebih kuat.

BACA JUGA: Perempuan Koperasi Belayan Sejahtera Perkuat Peran Petani Sawit Berkelanjutan

Melalui pendampingan KOLEGA, penguatan dilakukan mulai dari organisasi kelompok, kapasitas kewirausahaan, legalitas, operasional, akses pasar hingga peluang memperoleh pembiayaan dari pihak eksternal.

Salah satu bagian dari proses tersebut diwujudkan melalui Sekolah Desa Berdaya, yang dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha.

Di sinilah perjalanan UMKM mulai memasuki tahap berbeda. Produk yang sebelumnya dibuat berdasarkan pengalaman mulai diarahkan untuk dikelola dengan perencanaan yang lebih terstruktur.

BACA JUGA: Stok Sawit Malaysia Melonjak, Tangki Penyimpanan di Sarawak Kian Penuh

 

Ketika UMKM Mulai Belajar Mengelola Usaha

Perubahan tersebut tercermin dalam tata kelola kelompok binaan. Hingga Juli 2026, seluruh kelompok yang didampingi telah memiliki struktur organisasi. Sebanyak 85 persen telah menerapkan pencatatan keuangan yang baku, sedangkan 59 persen telah memiliki standar operasional prosedur atau SOP.

Bagi sebuah usaha kecil, pencatatan keuangan mungkin terlihat sederhana. Namun, kemampuan mengetahui berapa biaya produksi, berapa pendapatan dan bagaimana arus kas bergerak menjadi dasar penting untuk menentukan langkah berikutnya.

Hal yang sama berlaku pada legalitas.

BACA JUGA: Pakar: Efisiensi Pabrik Sawit Harus Dimulai dari Desain, Perawatan dan Kompetensi SDM

Sejumlah kelompok usaha binaan telah melengkapi usahanya dengan Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, serta sertifikasi halal. Dokumen tersebut bukan sekadar administratif, tetapi dapat menjadi bagian dari persyaratan ketika produk ingin memasuki saluran pasar yang lebih luas.

Dari sinilah proses pendampingan mulai bergerak dari sekadar meningkatkan kapasitas produksi menuju membangun kesiapan usaha. (*)

Lebih lengkap baaca Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2026


Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com