SVOC 2026 di Shanghai Soroti Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati

oleh -165 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. CPOPC/Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, bersama sejumlah Senior Official dan perwakilan negara anggota CPOPC di konferensi ke-4 minyak nabati dunia, SVOC, di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.

InfoSAWIT, SHANGHAI – Penguatan inovasi, produktivitas, dan kerja sama lintas negara menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 di Shanghai, Tiongkok. Konferensi yang digelar Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) pada 27 Oktober 2026 tersebut menyoroti pentingnya membangun rantai pasok minyak nabati yang berkelanjutan dan tangguh di tengah perubahan kebijakan serta dinamika perdagangan global.

Mengusung tema “Sustainability Alignment, Resilient Value Chains”, konferensi berlangsung di InterContinental Hotel Shanghai dan dihadiri lebih dari 200 peserta dari 11 negara. Para peserta terdiri atas perwakilan pemerintah, pelaku industri, organisasi internasional, serta pakar dari sektor minyak sawit, kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan minyak nabati lainnya.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas bagaimana negara produsen dan konsumen dapat memperkuat efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan tanpa mengabaikan produktivitas serta daya saing industri.

BACA JUGA: Perempuan Petani Sawit Didorong Lebih Mandiri dan Berdaya

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, menekankan bahwa ketahanan rantai pasok membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara negara produsen dan konsumen, terutama ketika pasar menghadapi perubahan harga dan ketidakpastian regulasi.

“Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi,” ujar Izzana dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (29/10/2026).

Menurut dia, ketahanan rantai pasok tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas produksi. Faktor lain, seperti ketersediaan informasi pasar, diversifikasi hubungan dagang, efisiensi logistik, dan kepastian kebijakan, juga menentukan keberlangsungan perdagangan minyak nabati.

BACA JUGA: Solidaridad Usulkan Lima Langkah Perkuat Hak Perempuan dalam Sertifikasi Sawit Berkelanjutan

“Ketahanan rantai pasok memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan dagang yang terdiversifikasi, logistik yang efisien, dan kerangka kebijakan yang dapat diprediksi,” katanya.

Izzana menambahkan, hubungan yang lebih kuat antara produsen dan pembeli diperlukan untuk menyelaraskan komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan kepentingan komersial.

“Ketahanan rantai pasok juga memerlukan keterlibatan yang lebih erat antara produsen dan pembeli, sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras,” tuturnya.

BACA JUGA: Harga CPO Diproyeksi Tetap Tinggi hingga 2027, Biodiesel Indonesia Jadi Penopang

 

Minyak Sawit Berperan Penting dalam Pasar Global

Dalam proyeksi yang dipaparkan pada konferensi, produksi minyak nabati global pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 234 juta ton. Dari jumlah tersebut, minyak sawit menyumbang sekitar 85 juta ton atau lebih dari sepertiga produksi dunia.

Besarnya kontribusi tersebut menempatkan minyak sawit sebagai salah satu komoditas strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan dan industri global. Pergerakan pasar minyak sawit juga berkaitan erat dengan komoditas minyak nabati lain melalui perdagangan internasional, pembentukan harga, substitusi produk, dan perubahan permintaan.

Di tengah persaingan pasar, negara produsen menghadapi tantangan bersama, mulai dari pengelolaan lahan dan ketahanan iklim hingga pemenuhan standar keberlanjutan serta persyaratan akses pasar.

BACA JUGA: Mentan Tekankan Peremajaan Sawit Rakyat dan Hilirisasi untuk Perkuat Kedaulatan Energi

Karena itu, pertukaran pengetahuan dan pengembangan inovasi menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai minyak nabati yang lebih tangguh.

 

Tiongkok Jadi Pasar Strategis Minyak Nabati

Tiongkok menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan SVOC 2026 karena perannya sebagai konsumen besar sekaligus mitra strategis perdagangan minyak nabati dunia.

Pada 2025, konsumsi minyak nabati Tiongkok diperkirakan mencapai 35,8 juta ton, termasuk 5,07 juta ton minyak sawit. Angka tersebut memperlihatkan besarnya peluang kerja sama antara negara produsen dan konsumen untuk memperkuat perdagangan yang berkelanjutan.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melesat Pada Rabu (28/10/2026), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah

Dalam sambutan utama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyoroti pentingnya meningkatkan produktivitas petani kecil tanpa harus memperluas areal perkebunan.

Sementara itu, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad, menekankan perlunya standar keberlanjutan yang mendukung akses produsen ke pasar global. Malaysia juga mendorong penguatan kerja sama dengan Tiongkok dalam bidang teknologi, riset, dan pengembangan pasar.

Adapun Wakil Menteri Budidaya Kopi Honduras, José Francisco Ordóñez, menyoroti pentingnya sistem ketertelusuran yang kredibel untuk membuktikan praktik produksi berkelanjutan sekaligus memperkuat kerja sama antara Tiongkok, CPOPC, dan negara-negara Amerika Latin.

BACA JUGA: Media Perkebunan Apresiasi Penas III Apkasindo, Dorong Penguatan Kapasitas Petani Sawit

 

Inovasi Jadi Kunci Peningkatan Produktivitas

Sesi pertama bertajuk “Driving Sustainability through Productivity and Innovation” membahas pemanfaatan teknologi pertanian, bahan tanam unggul, mekanisasi, agronomi presisi, dan standar keberlanjutan untuk meningkatkan efisiensi produksi minyak nabati.

Sesi yang diawali sambutan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, Djauhari Oratmangun, tersebut mempertemukan perwakilan industri dan lembaga keberlanjutan untuk membahas berbagai pendekatan dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga tanggung jawab lingkungan.

Sejumlah pembicara yang hadir antara lain Mohd Hasbollah Suparyono dari Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), Dr. Chen Zi Yan dari Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), Caroline Xu dari AAK China, Chen Ying dari China Customs Brokers Association, serta Harry Hanawi dari Sinar Mas Agribusiness and Food.


Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com