Lifeng Fang dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bertindak sebagai moderator, sedangkan Yu Xin dari WWF China menjadi penanggap utama.
Diskusi tersebut turut menyoroti peran Tiongkok dalam memfasilitasi perdagangan minyak nabati berkelanjutan, memperluas akses pasar, dan memperkuat transparansi rantai pasok lintas komoditas.
Kebijakan Hijau dan Dinamika Pasar Jadi Tantangan
Sesi kedua, “Building Competitive and Resilient Vegetable Oil Value Chains amid Evolving Policies, Standards and Market Demand”, membahas bagaimana perubahan kebijakan, regulasi, dan persyaratan pasar memengaruhi negara produsen maupun konsumen.
BACA JUGA: 31 Pekebun Sawit Sulbar Dibekali Keterampilan Pemetaan Digital
Pembahasan mencakup kebijakan biodiesel B50 Indonesia, pengembangan biofuel berbasis sawit di Malaysia, serta upaya Republik Demokratik Kongo dan Papua Nugini dalam memperkuat rantai nilai minyak sawit dan mendukung petani kecil.
Sesi tersebut menghadirkan Wang Xin dari Foreign Environmental Cooperation Center (FECO), Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup Tiongkok; Yang Junyi dari World Resources Institute China; Dr. Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Republik Indonesia; serta Dr. Mohd Hefni Rusli, Wakil Direktur Jenderal bidang Riset dan Pengembangan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Perspektif negara produsen juga disampaikan Monique Gieskes, CEO Plantations et Huileries du Congo (PHC), Republik Demokratik Kongo, dan Kepson Pupita, Sekretaris Jenderal Oil Palm Industry Corporation (OPIC) Papua Nugini.
BACA JUGA: ESDM Periksa Kebun Sawit yang Diduga Jalankan Usaha Tambang di Luar Izin
Langlang Tata Buana dari Proforest membahas bagaimana kebijakan dan standar memengaruhi praktik di sepanjang rantai pasok, sementara Li Sifan dari China Chamber of Commerce of Import and Export of Foodstuffs, Native Produce and Animal By-products (CFNA) menjadi penanggap utama.
Melalui penyelenggaraan SVOC, CPOPC berupaya memperkuat dialog antara negara produsen dan konsumen, pelaku industri, lembaga riset, serta mitra keberlanjutan.
Ke depan, forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang pertukaran pandangan, tetapi juga menghasilkan kerja sama konkret dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat transparansi, dan membangun rantai pasok minyak nabati yang lebih berkelanjutan serta berdaya saing global. (T2)




















