InfoSAWIT, MAMUJU – Sebanyak 31 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, mengikuti Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I pada 23–26 Oktober 2026. Pelatihan ini membekali peserta dengan keterampilan geospasial, mulai dari pengambilan koordinat di lapangan hingga penyusunan peta digital menggunakan perangkat lunak sistem informasi geografis atau Geographic Information System (GIS).
Program yang dilaksanakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas teknis pekebun dalam mendokumentasikan lokasi serta batas lahan perkebunan secara lebih sistematis.
Kemampuan pemetaan dinilai penting untuk mendukung pendataan perkebunan berbasis informasi spasial. Melalui peta yang disusun dari data terukur, pekebun dapat memperoleh gambaran mengenai posisi dan batas wilayah kebunnya. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada ketelitian pengambilan data dan proses verifikasi sebelum informasi digunakan.
BACA JUGA: ESDM Periksa Kebun Sawit yang Diduga Jalankan Usaha Tambang di Luar Izin
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (27/10/2026), pelatihan dibuka dengan kehadiran Muh. Faizal Thamrin, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat; Dr. H. Abidin, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Pasangkayu; Dr. M. Apuk Ismane dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian; Mula Putra, dari Direktorat Jenderal Perkebunan; serta Prof. Hariyadi, M.S., dari tim narasumber IPB Training.
Peserta Belajar dari Koordinat hingga Pengolahan Peta
Materi pelatihan diawali dengan pengenalan kebijakan dan regulasi pemetaan, konsep geospasial, serta karakteristik data spasial. Peserta juga mempelajari perbedaan data vektor dan raster, sumber data pemetaan, serta pemanfaatan perangkat pendukung seperti GPS, telepon genggam, drone, dan perangkat lunak GIS.
Pengetahuan tersebut menjadi dasar sebelum peserta melakukan survei lapangan. Mereka mempelajari cara menentukan objek yang akan dipetakan, menyiapkan kegiatan survei, mengambil koordinat, hingga menelusuri batas lahan. Tahapan ini diperlukan agar data yang dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan dan dapat diolah pada proses berikutnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 28 Oktober–3 November 2026 Naik, Umur 9 Tahun Rp3.785,87 per Kg
Praktik lapangan dilaksanakan di kebun kelapa sawit di Desa Polo Lereng, Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempraktikkan tracking untuk merekam batas lahan, geo-tagging untuk menandai lokasi tanaman, serta penggunaan drone untuk memperoleh data spasial dari udara.
Pengambilan data menjadi salah satu tahapan penting karena ketepatan titik koordinat dan batas lahan akan memengaruhi hasil peta. Data yang tidak lengkap atau tidak sesuai perlu diperiksa kembali agar tidak menghasilkan informasi yang keliru pada tahap pengolahan.
Setelah praktik lapangan, peserta melanjutkan pembelajaran dengan mengolah data menggunakan perangkat lunak GIS. Materi mencakup georeferencing untuk menyesuaikan posisi data dengan koordinat geografis, pembuatan objek dalam format vektor, pengaturan atribut, serta penghitungan luas dan panjang objek berdasarkan data yang tersedia.
BACA JUGA: Pakar PKS Bongkar Faktor Penentu Rendemen Sawit, dari Sortasi hingga Oil Losses
Peserta juga mempelajari penyusunan tampilan peta melalui pengaturan simbol, warna, dan tata letak. Elemen-elemen tersebut diperlukan agar informasi yang disajikan dapat dibaca dan dipahami dengan baik. Data yang telah diolah kemudian disusun menjadi peta akhir dan diekspor sebagai hasil pemetaan.
Pemetaan Digital untuk Mendukung Pendataan Kebun
Rangkaian pelatihan dirancang untuk memperkenalkan proses pemetaan secara menyeluruh, bukan sekadar penggunaan aplikasi. Peserta mengikuti tahapan mulai dari pengumpulan data di lapangan, pengolahan koordinat, hingga penyajian informasi dalam bentuk peta digital.
Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi integrasi materi dan post-test untuk mengevaluasi pemahaman terhadap materi yang telah diberikan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode IV Oktober 2026 Naik, Umur 10–20 Tahun Capai Rp3.748,80 per Kg
Keterampilan tersebut diharapkan membantu pekebun menyusun dokumentasi lokasi dan batas kebun secara lebih terstruktur. Informasi spasial yang dikelola dengan baik dapat menjadi salah satu sumber data untuk mendukung pendataan lahan perkebunan.
Meski demikian, penggunaan peta digital tetap memerlukan ketelitian dalam pengukuran, pemilihan metode pengolahan yang sesuai, serta verifikasi terhadap data yang digunakan. Peta yang dihasilkan perlu merepresentasikan kondisi lapangan secara akurat agar dapat dimanfaatkan sebagai informasi pendukung pengelolaan kebun.
Melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kemampuan teknis pekebun melalui pembelajaran teori dan praktik. Bagi 31 peserta asal Pasangkayu, keterampilan mengumpulkan dan mengolah data geospasial diharapkan menjadi bekal untuk menerapkan pemetaan digital dalam pendokumentasian kebun masing-masing.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Senin (26/10/2026), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Penguasaan teknologi pemetaan diharapkan mendorong pengelolaan perkebunan yang semakin tertib dan berbasis data, dengan informasi lokasi serta batas lahan yang terdokumentasi secara lebih sistematis. (T2)




















