InfoSAWIT, PALEMBANG – Kesalahan memilih bibit kelapa sawit dapat berdampak panjang terhadap produktivitas perkebunan. Keputusan yang diambil pada awal penanaman berpotensi memengaruhi hasil kebun selama bertahun-tahun, sehingga pekebun perlu memastikan bahan tanam yang digunakan berasal dari sumber terpercaya dan memiliki sertifikasi.
Pentingnya pemilihan benih berkualitas menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit yang diikuti 176 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada 29 September hingga 4 Oktober 2026 tersebut merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (4/10/2026), Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, MM., CPC, mengingatkan pekebun agar tidak menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan ketika membeli bibit kelapa sawit. Menurut dia, penggunaan benih bersertifikat menjadi langkah penting untuk membangun kebun dengan potensi produksi yang baik.
“Petani mestinya memilih bibit yang tersertifikasi. Bibit unggul produktivitasnya sudah diteliti di laboratorium dan dibuktikan di lapangan,” ujar Sigit.
Pemilihan bibit menjadi keputusan strategis karena kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan dengan siklus investasi jangka panjang. Apabila bahan tanam yang digunakan tidak memiliki potensi produksi memadai, biaya yang dikeluarkan untuk pupuk, tenaga kerja, dan pemeliharaan berisiko tidak memberikan hasil optimal.
Sebaliknya, penggunaan bahan tanam unggul dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan produktivitas kebun. Meski demikian, potensi genetik tanaman tetap perlu didukung kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai dan praktik budi daya yang benar.
BACA JUGA: Ekspor Indonesia Agustus 2026 Tembus US$26,61 Miliar, Naik 6,72 Persen
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari perbedaan bahan tanam unggul dan nonunggul, pentingnya mengetahui asal-usul benih, serta tahapan pembibitan mulai dari pre-nursery hingga main nursery. Pekebun juga dibekali pemahaman untuk mengenali ciri-ciri bibit abnormal sebelum tanaman dipindahkan ke lapangan.
Diskusi turut membahas cara menentukan bibit unggul dan alasan pemilihan varietas tertentu, termasuk karakteristik tanaman tipe tenera yang banyak digunakan dalam perkebunan kelapa sawit.
Pelatihan yang melibatkan enam angkatan, yakni Angkatan XXX hingga XXXV, tersebut tidak hanya berfokus pada pemilihan bahan tanam. Peserta juga mempelajari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian gulma, serta penanganan hama dan penyakit tanaman.
Materi tersebut relevan bagi Kabupaten OKU yang memiliki sekitar 72,9 ribu hektare perkebunan kelapa sawit, dengan sebagian besar areal dikelola oleh perkebunan rakyat. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap komoditas sawit, kualitas bahan tanam menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga produktivitas kebun.
Kondisi harga sawit yang relatif baik turut mendorong sebagian pekebun karet di daerah tersebut untuk mengembangkan atau beralih ke kelapa sawit. Namun, pengembangan usaha perkebunan perlu diiringi pemahaman teknis agar keputusan sejak pembukaan lahan hingga pemeliharaan tanaman tidak merugikan pekebun dalam jangka panjang.
Dengan demikian, penggunaan bibit bersertifikat perlu dipandang sebagai bagian dari strategi investasi perkebunan. Ketepatan memilih bahan tanam, yang diikuti pengelolaan kebun secara konsisten, menjadi modal penting bagi pekebun rakyat untuk mengoptimalkan hasil dan menjaga keberlanjutan usaha kelapa sawit. (T2)





















