InfoSAWIT, JAKARTA – Efisiensi pabrik kelapa sawit tidak cukup dicapai dengan membeli mesin berteknologi tinggi. Kesesuaian desain dengan kebutuhan operasional, disiplin pemeliharaan, serta kemampuan sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan keandalan dan keuntungan pabrik dalam jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Pakar pabrik kelapa sawit sekaligus Direktur PT Mitra Agro Servindo, Bonar Saragih, dalam IPS Planter Talk Series #4 bertajuk “Building a High Extraction, Low Loss and Reliable Palm Oil”, dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (24/10/2026).
Dalam forum tersebut, Bonar menekankan bahwa keputusan investasi pembangunan maupun peningkatan fasilitas pabrik perlu mempertimbangkan keseluruhan biaya dan manfaat selama masa operasional. Kesalahan memilih spesifikasi peralatan dapat menimbulkan biaya tambahan, menurunkan efisiensi, dan menghambat pencapaian target produksi.
BACA JUGA: SVOC 2026 di Shanghai Soroti Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati
Menurutnya, mesin yang mahal belum tentu paling sesuai dengan kebutuhan pabrik. Sebaliknya, peralatan yang sudah terbukti digunakan secara luas, memiliki kinerja terukur, dan didukung layanan purnajual yang baik dapat menjadi pertimbangan penting dalam proses pengadaan.
“Mesin yang bagus memang mahal, tetapi mesin yang mahal belum tentu bagus,” demikian inti pesan Bonar saat membahas pemilihan peralatan pabrik.
Desain dan Investasi Harus Sesuai Kebutuhan
Bonar mengingatkan bahwa spesifikasi peralatan harus disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik operasi pabrik. Pemilihan boiler, turbin, sistem perebusan, hingga mesin pemisahan minyak perlu mempertimbangkan kebutuhan proses secara keseluruhan.
Ia menilai, kesesuaian desain berpengaruh terhadap penggunaan energi, stabilitas operasi, dan biaya pemeliharaan. Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi kemampuan teknis pemasok, rekam jejak peralatan, ketersediaan suku cadang, serta dukungan setelah penjualan.
Bagi pabrik yang baru dibangun, perencanaan investasi juga perlu mempertimbangkan biaya operasional pada tahun-tahun awal. Menurut Bonar, fase awal operasi merupakan periode penting untuk menjaga daya saing biaya dan mengelola pengembalian investasi.
Ia juga mengingatkan bahwa pabrik perlu beroperasi secara konsisten dan menghindari penghentian serta pengoperasian ulang yang tidak perlu. Jadwal perawatan harus direncanakan agar kerusakan tidak terus berulang dan waktu berhenti produksi dapat dikendalikan.
BACA JUGA: Harga CPO Diproyeksi Tetap Tinggi hingga 2027, Biodiesel Indonesia Jadi Penopang
Perawatan Preventif untuk Menekan Kerusakan
Aspek berikutnya yang menjadi sorotan adalah sistem pemeliharaan mesin. Bonar membedakan perawatan yang dilakukan setelah kerusakan terjadi dengan pemeliharaan preventif yang bertujuan mencegah gangguan sebelum berkembang menjadi kerusakan serius.
Menurutnya, perusahaan perlu mengevaluasi penggunaan waktu kerja tim pemeliharaan. Pengelola pabrik harus mengetahui berapa banyak waktu yang digunakan untuk menangani kerusakan dan berapa banyak yang dialokasikan untuk pemeriksaan rutin, penggantian komponen terencana, serta tindakan pencegahan.
Pencatatan tersebut dapat membantu manajemen mengidentifikasi peralatan yang sering mengalami gangguan, menentukan prioritas perbaikan, dan memperbaiki jadwal pemeliharaan.
BACA JUGA: Solidaridad Usulkan Lima Langkah Perkuat Hak Perempuan dalam Sertifikasi Sawit Berkelanjutan
Bonar juga mengingatkan bahwa gangguan operasi tidak selalu bersumber dari mesin. Faktor bahan baku dan kondisi operasional yang berubah dapat memengaruhi keandalan proses. Karena itu, pemeliharaan perlu diintegrasikan dengan pengawasan produksi dan pengendalian kualitas bahan baku.
Pelatihan Karyawan Tidak Boleh Diabaikan
Selain teknologi dan pemeliharaan, Bonar menekankan pentingnya investasi dalam pengembangan kompetensi karyawan. Menurutnya, perusahaan perlu menyediakan program pelatihan terstruktur bagi asisten, manajer, operator, petugas sortasi, serta tenaga kerja lain yang terlibat dalam proses produksi.
Pelatihan, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman kerja atau instruksi lisan dari atasan. Perusahaan perlu menyiapkan materi, jadwal, daftar kehadiran, serta evaluasi untuk memastikan pengetahuan yang diberikan benar-benar dipahami dan diterapkan.
BACA JUGA: Mentan Tekankan Peremajaan Sawit Rakyat dan Hilirisasi untuk Perkuat Kedaulatan Energi
Bonar juga mendorong para manajer agar berperan aktif dalam mengembangkan kemampuan tim. Pembelajaran yang berkelanjutan diperlukan supaya karyawan memahami standar kerja, mampu mengenali penyimpangan, dan mengambil tindakan sesuai prosedur.
Ia menilai, penguatan kompetensi tersebut penting karena operasional pabrik melibatkan banyak fungsi yang saling berkaitan, mulai dari penerimaan TBS, pengolahan, pemeliharaan mesin, hingga pengendalian kualitas produk.
Dalam konteks peningkatan produktivitas, Bonar turut mengingatkan pentingnya menghubungkan kinerja kebun dengan kemampuan pengolahan pabrik. Kualitas bibit, praktik agronomi, kematangan panen, dan penanganan buah akan memengaruhi bahan baku yang diterima pabrik.
BACA JUGA: Gulat Manurung Minta Pemerintah Pertimbangkan Nasib Petani Sawit dalam Penyusunan Regulasi
Karena itu, peningkatan efisiensi perlu dilakukan secara terintegrasi, bukan melalui perbaikan satu bagian secara terpisah.
Melalui paparannya, Bonar menegaskan bahwa pabrik kelapa sawit yang andal membutuhkan kombinasi desain yang tepat, peralatan sesuai kebutuhan, pemeliharaan terencana, dan sumber daya manusia yang kompeten. Perpaduan tersebut menjadi fondasi untuk menekan biaya, mengurangi gangguan operasi, dan meningkatkan keuntungan secara berkelanjutan. (T2)



















