India Pertahankan Bea Masuk Tinggi Pertanian, Demi Swasembada dan Ketahanan Pangan

oleh -3.562 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT/Pelabuhan Khusus Ekspor CPO.

InfoSAWIT, MUMBAI – Lembaga riset ekonomi Global Trade Research Initiative (GTRI) merilis laporan pada 1 Januari yang menekankan pentingnya India mempertahankan bea masuk yang tinggi untuk komoditas pertanian sensitif, seperti beras, guna menjaga swasembada dan memastikan ketahanan pangan. Menurut laporan tersebut, tindakan ini juga akan mengurangi ketergantungan India pada impor minyak nabati dan memperbaiki kesehatan masyarakat.

India, sebagai importir terbesar minyak nabati di dunia, dihadapkan pada lonjakan impor yang diperkirakan mencapai US$ 20,8 miliar pada tahun 2023-24, naik dua kali lipat dari US$ 10,8 miliar pada tahun 2017-18. GTRI menyoroti perlunya edukasi konsumen tentang manfaat kesehatan dari menggunakan minyak lokal, seperti sawi, kacang tanah, dan dedak padi.

Dikutip InfoSAWIT dari The Hindu, laporan GTRI juga mencatat bahwa negara maju, termasuk AS dan UE, mendukung pertanian mereka dengan teknologi terkini, menerapkan tarif tinggi untuk mencegah impor, dan memberikan subsidi besar untuk mendorong ekspor. Meskipun tekanan dari negara maju untuk membuka sektor pertanian terhadap impor, India telah mempertahankan tembok tarif impor tinggi, mencapai 30-100% untuk barang-barang sensitif.

BACA JUGA: BPDPKS Kembali Buka Program Grant Riset Sawit 2024, Untuk 7 Bidang Penelitian Sawit

Ajay Srivastava, salah satu pendiri GTRI, menekankan bahwa pendekatan saat ini yang menetapkan tarif impor tinggi untuk barang-barang sensitif dan menolak membuka sektor pertanian terhadap impor bersubsidi dengan tarif rendah sangat penting untuk melestarikan swasembada India dan menjamin ketahanan pangan bagi populasi yang terus bertambah.

Sementara menurut PBB, impor bersih sereal oleh negara-negara berkembang diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat dalam 30 tahun mendatang. India, dengan fokus pada kebijakan seperti revolusi hijau dan putih, tarif impor tinggi, serta negosiasi aktif di WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), berhasil mencapai swasembada hampir semua produk pertanian dan pangan.

Lantas, unutk komoditas minyak nabati, kacang-kacangan, serta buah-buahan segar dan kering menyumbang 72,1% dari impor pertanian India pada tahun 2023. Minyak nabati merupakan konstituen impor terbesar, menyumbang 51,9% dari total impor pertanian India.

BACA JUGA: Riset Sawit Berjibun Bukan Untuk Ditimbun

India mengimpor 4 jenis minyak, yakni Minyak Sawit Mentah (CPO), Minyak Mentah Kacang Kedelai, Minyak Biji Bunga Matahari Mentah, dan Palmolein Refined Bleached Deodorized (RBD).

Laporan tersebut menyatakan bahwa impor pada tahun 2023 diperkirakan mengalami penurunan sebesar 18,6% menjadi US$ 17,1 miliar dibandingkan tahun 2022, terutama disebabkan oleh penurunan harga impor, bukan kuantitas. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com