InfoSAWIT, BALI – Impor minyak nabati India diperkirakan menurun pada musim 2024-2025, dengan estimasi mencapai 15 juta metrik ton, seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri yang didukung oleh kondisi cuaca yang ideal. Menurut BV Mehta, Direktur Eksekutif The Solvent Extractors’ Association of India, India, sebagai importir minyak nabati terbesar dunia, telah mengimpor sekitar 16 juta ton pada musim 2023-2024 yang berakhir Oktober lalu. Sementara itu, pada periode 2022-2023, angka impor mencapai 16,5 juta ton.
Dalam pertemuan di Konferensi Kelapa Sawit Indonesia di Bali, Mehta menyatakan bahwa produksi minyak nabati domestik diprediksi naik hingga tiga hingga empat juta ton. “Dengan peningkatan ini dan permintaan yang stabil, kami memperkirakan adanya surplus produksi domestik sekitar satu juta ton,” ujar Mehta dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Jumat (8/11/2024).
Cuaca yang baik tahun ini telah meningkatkan hasil panen kacang kedelai dan kacang tanah, serta diprediksi akan mendorong produksi lobak yang lebih tinggi, tambah Mehta. Kondisi ini memungkinkan India untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak nabati, termasuk minyak sawit, yang selama ini mendominasi pangsa impor minyak nabati negara tersebut.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,65 Persen Pada Kamis (7/11), Harga CPO di Bursa Malaysia Turun Tipis
Impor minyak sawit India pada musim 2023-2024 diproyeksikan menurun menjadi 9,2 juta ton, lebih rendah dari 9,8 juta ton pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, impor minyak bunga matahari meningkat signifikan, diperkirakan mencapai 3,5 juta ton, naik dari 2,9 juta ton pada periode sebelumnya. Lonjakan permintaan minyak bunga matahari ini didorong oleh harga minyak kelapa sawit yang terus meningkat, sehingga pembeli beralih ke minyak alternatif yang lebih ekonomis.
“Minyak sawit akan kehilangan sekitar 2% hingga 3% pangsa pasarnya, sementara minyak bunga matahari dan minyak nabati lunak lainnya akan mendapatkan pangsa pasar berkat diskon harga yang menarik,” ungkap Mehta.
Harga acuan minyak kelapa sawit di Malaysia telah naik sekitar 30% sepanjang tahun ini, yang berpotensi mengurangi daya beli konsumen berpenghasilan rendah di India. Meski demikian, impor minyak sawit India sempat melonjak hingga 59% pada Oktober lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi akibat pembelian besar-besaran oleh penyuling untuk mengisi stok yang menipis dan memenuhi lonjakan permintaan selama musim perayaan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 8-14 November 2024 Naik Rp 101,97/Kg Cek Harganya..
Dengan adanya surplus produksi domestik dan diversifikasi minyak nabati, India diharapkan mampu mempertahankan ketahanan pasokan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor. (T2)
