Petani Swadaya Naik Kelas, Mimpi Besar di Tengah Transformasi Sawit Berkelanjutan

oleh -8.579 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO Indonesia, Mahatma Windrawan Inantha.

InfoSAWIT, JAKARTA — Di tengah riuh transformasi industri kelapa sawit Indonesia, petani swadaya perlahan naik ke panggung utama. Mereka bukan lagi sekadar pelengkap dalam rantai pasok, tapi kini mulai diperhitungkan sebagai aktor penting menuju keberlanjutan. Suasana itu terasa hangat dalam Thought Leadership Forum yang digelar di Universitas Trisakti, Selasa (27/5/2025).

Forum bertajuk “Bridging Policy and Practice: Harmonizing Local Regulations with Global Sustainability Standards” ini menghadirkan beragam pemangku kepentingan, dari pemerintah, perusahaan, organisasi petani, hingga lembaga internasional seperti RSPO dan GIZ. Bukan hanya sekadar diskusi, forum ini menjadi tempat bertemunya harapan dan realita.

Rektor Universitas Trisakti, Prof. Kadarsah Suryadi dalam sambutannya, menyebut forum ini sebagai bagian dari peran aktif kampus dalam pembangunan berkelanjutan. “Kami ingin Trisakti menjadi motor penggerak perubahan. Pendidikan dan kolaborasi adalah kuncinya,” katanya saat membuka acara yang dihadiri InfoSAWIT, Selasa (27/5/2025).

BACA JUGA: RSPO Dorong Petani Sawit Mandiri Beralih dari Kredit ke Penjualan Fisik

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah ketika Bupati Sekadau, Aron, membagikan cerita dari lapangan. Sejak 2022, daerahnya sudah punya Rencana Aksi Daerah (RAD) Sawit Berkelanjutan, turunan dari kebijakan nasional. Tapi Aron tak menutupi fakta: tantangan di lapangan tidak sedikit.

“Petani kami sudah tersertifikasi RSPO, tapi harga tandan buah segar (TBS) yang mereka terima masih sama seperti yang belum tersertifikasi,” ungkapnya. Tanpa diferensiasi harga, insentif untuk mempertahankan praktik berkelanjutan jadi melemah.

Masalah itu diamini oleh Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO Indonesia, Mahatma Windrawan Inantha. Menurutnya, sistem sertifikasi RSPO memang sudah dirancang untuk mendukung petani swadaya, termasuk lewat skema book and claim. Tapi ia menegaskan: ini baru langkah awal.

BACA JUGA: Dua Dosen INSTIPER Raih Paten atas Inovasi Pengolahan Limbah Sawit

“Petani swadaya perlu naik kelas. Bukan hanya menjual kredit RSPO, tapi juga masuk ke rantai pasok fisik yang berkelanjutan,” tegas Windrawan. Caranya? Salah satunya dengan menghubungkan petani bersertifikat ke pabrik sawit yang juga sudah RSPO. “Dengan begitu, akses pasar mereka terbuka lebih luas. Posisi tawar mereka pun jadi lebih kuat.”

Forum ini bukan sekadar wacana. Harapannya, dari pertemuan ini lahir rekomendasi konkret—mulai dari skema pendanaan inovatif, sinergi multipihak, hingga integrasi pertanian regeneratif dalam perencanaan daerah.

Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar dunia, memang sedang berada di titik kritis. Di satu sisi, ada tekanan global untuk lebih hijau dan berkelanjutan. Di sisi lain, jutaan petani swadaya menggantungkan hidup pada industri ini. Tantangannya besar. Tapi seperti yang ditunjukkan dalam forum ini, semangat kolaborasi juga tak kalah besar.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 28 Mei – 3 Juni 2025 Turun Rp23,60 per kg

Kini, yang dibutuhkan adalah langkah nyata. Agar para petani swadaya tak hanya naik kelas di atas kertas, tapi benar-benar merasakan perubahan di ladang mereka. (T2)

 


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com