Industri Sawit Bergerak Melawan Diskriminasi dan Eksploitasi

oleh -2.723 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Sumarjono Saragih (kanan).

InfoSAWIT, JAKARTA – Isu diskriminasi gender dan eksploitasi pekerja anak kembali mencuat dalam perbincangan global, termasuk di sektor industri sawit Indonesia. Di tengah perhatian internasional terhadap praktik ketenagakerjaan, para pelaku industri sawit justru mengambil langkah progresif untuk menegaskan komitmen terhadap hak asasi manusia dan kesetaraan.

Ketua Bidang Pengembangan SDM GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Sumarjono Saragih, menegaskan bahwa industri sawit Indonesia tidak tinggal diam. “Sejak 2020, GAPKI telah menyusun panduan dan melakukan kampanye perlindungan pekerja perempuan dan anak. Kini kami memperluas gerakan ini melalui inisiatif GEBIE,” ujar Sumarjono dalam keterangnnya kepada InfoSAWIT, Jumat (30/5/2025).

GEBIE, singkatan dari Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast, merupakan hasil kolaborasi antara GAPKI, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dan Pemerintah Kanada. Inisiatif ini mendorong pengarusutamaan gender di sektor sawit melalui pendekatan berbasis komunitas dan perusahaan.

BACA JUGA: SPKS Desak Pemerintah Danai Sertifikasi ISPO dan Berikan Insentif Bagi Petani Sawit

“Tujuan kami adalah mendorong partisipasi aktif perempuan dalam ekosistem industri sawit, sekaligus memastikan anak-anak tidak menjadi bagian dari rantai pasok kerja,” tambah Sumarjono.

Di tingkat global, upaya serupa digalakkan melalui platform Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada poin ke-5 tentang kesetaraan gender. Sementara Uni Eropa telah mengesahkan Corporate Sustainability Due Diligence Directive (CSDDD) yang mewajibkan perusahaan global memastikan tidak ada praktik kerja paksa atau pekerja anak dalam rantai pasok mereka.

Indonesia sendiri menghadapi tantangan besar. Dalam Global Gender Gap Index 2024 versi World Economic Forum, posisi Indonesia turun ke peringkat 100 dari 146 negara, sebelumnya berada di peringkat 87 pada 2023. Diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, ruang publik, pendidikan, hingga dunia kerja.

BACA JUGA: Eco Tourism Bali dan RSPO Sepakat Dorong Serapan Minyak Sawit Bekelanjutan di Sektor Pariwisata Bali

Namun, sektor sawit menunjukkan kemajuan. Saat ini, dua perempuan menduduki posisi strategis di organisasi penghasil sawit dunia, CPOPC (Council of Palm Oil Producing Countries): Izzana Salleh dari Malaysia sebagai Sekretaris Jenderal dan Musdhalifah Machmud dari Indonesia sebagai Deputi. Keduanya direncanakan akan dilibatkan sebagai penggerak utama GEBIE.

“Perempuan-perempuan di sawit bukan sekadar objek perlindungan, tapi juga subjek perubahan. Mereka harus dilibatkan sebagai pemimpin dan inspirator,” tegas Sumarjono.

Melalui gerakan ini, industri sawit Indonesia berupaya menegaskan bahwa isu kesetaraan gender dan perlindungan anak bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari masa depan bisnis yang berkelanjutan dan bermartabat. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com