Eco Tourism Bali dan RSPO Sepakat Dorong Serapan Minyak Sawit Bekelanjutan di Sektor Pariwisata Bali

oleh -2.458 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Dr. M. Windrawan Inantha, Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO Indonesia pada acara Eco Tourism Bali, di Sanur, Bali.

InfoSAWIT, SANUR – Minyak sawit berkelanjutan menjadi sorotan utama dalam perhelatan Eco Tourism Week 2025 yang digelar di The Meru Sanur, Bali. Digagas oleh Eco Tourism Bali (ETB), acara ini mengungkap peran penting sektor pariwisata dalam mendorong praktik ramah lingkungan—termasuk dalam hal konsumsi minyak sawit.

Dalam langkah terobosannya, ETB menjalin kemitraan strategis dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), menandai babak baru dalam integrasi pariwisata dan keberlanjutan lingkungan. “Melalui kemitraan ini, kami ingin mengurangi deforestasi, melindungi satwa liar, dan memberdayakan masyarakat lokal,” ujar Suzy Hutomo, Co-Founder Eco Tourism Bali dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (29/5/2025). Ia menekankan bahwa wisatawan, khususnya dari Eropa, semakin mengutamakan perjalanan yang memperhatikan dampak lingkungan.

RSPO sendiri melihat potensi besar dari sektor pariwisata untuk memperluas penggunaan Certified Sustainable Palm Oil (CSPO). Dr. M. Windrawan Inantha, Deputi Direktur Transformasi Pasar RSPO Indonesia, menyebut bahwa sektor pariwisata nasional mengonsumsi sekitar 500.000 ton minyak sawit mentah per tahun—setara 5% dari total konsumsi nasional untuk pangan. “Ini bukan angka kecil. Pariwisata punya posisi strategis untuk mempelopori konsumsi sawit berkelanjutan,” ujarnya.

BACA JUGA: Wasekjen CPOPC Musdhalifah Machmud: Dorong Produktivitas Kebun Sawit dan Kolaborasi Global untuk Energi Terbarukan

Dengan lebih dari 14 juta wisatawan mancanegara dan ratusan juta perjalanan domestik pada 2024, konsumsi minyak goreng di hotel, restoran, dan sektor katering menjadi signifikan. “Jika setiap wisatawan mengonsumsi 0,1 kg minyak goreng per hari, dampaknya akan besar jika beralih ke CSPO,” tambah Windrawan.

Ia juga menilai bahwa adopsi CSPO merupakan strategi bisnis yang tepat. “Banyak pelaku wisata sudah bersertifikasi keberlanjutan seperti GSTC atau Green Key. Langkah berikutnya adalah memastikan bahan pangan yang mereka gunakan pun berkelanjutan,” jelasnya.

Upaya ini sejalan dengan peran Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia sekaligus pendukung konsumsi yang bertanggung jawab. Kolaborasi lintas sektor—antara pelaku pariwisata, pemasok pangan, pemerintah daerah, dan komunitas lokal—dipandang sebagai kunci untuk mendorong perubahan sistemik dalam rantai pasok.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 28 Mei – 3 Juni 2025 Turun Rp74,68 per Kg

“Pariwisata dan minyak sawit adalah dua pilar ekonomi Indonesia. Jika keduanya dikelola dengan bertanggung jawab, kita bisa wujudkan masa depan yang lebih hijau dan inklusif,” tutup Dr. Windrawan.

Acara ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan—dan Bali sekali lagi tampil sebagai pelopor. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com