Simon Bruslund: Sawit Berkelanjutan Butuh Kolaborasi Nyata, Bukan Sekadar Sertifikasi

oleh -2.361 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Simon Bruslund, Director of Global Development Copenhagen Zoo

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Di tengah perdebatan panjang soal industri minyak sawit, Simon Bruslund, Director of Global Development Copenhagen Zoo, menegaskan bahwa isu keberlanjutan tidak bisa hanya berhenti pada sertifikasi. Menurutnya, upaya melindungi keanekaragaman hayati dan mendorong praktik berkelanjutan di sektor sawit harus melibatkan semua pihak — mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat global.

Dalam paparannya di sebuah forum internasional, Simon mengulas perjalanan panjang sektor sawit sejak awal kemunculan skema sertifikasi seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Ia menilai, kedua inisiatif tersebut telah membuka jalan bagi praktik keberlanjutan, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Dulu, ketika RSPO mulai dikenal, sawit sering disebut sebagai the most hated crop — tanaman yang paling dibenci di dunia,” ujar Simon dalam Diskusi dan Pemutaran Film “Palm Oil in the Land of Orangutans”, dihadiri InfoSAWIT, belum lama ini. “Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya adil. Banyak pihak di Indonesia dan negara lain yang sudah berupaya memperbaiki praktik di lapangan. Yang dibutuhkan sekarang adalah pemahaman bahwa sawit juga bisa dikelola secara berkelanjutan, dengan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.”

BACA JUGA: Diplomasi Sawit Lewat Film: Kemlu RI Dorong Pemahaman Global tentang Minyak Sawit Berkelanjutan

Simon menekankan pentingnya perencanaan perkebunan berbasis data dan pemantauan dampak nyata terhadap lingkungan. Menurutnya, industri sawit tidak boleh hanya fokus pada pemenuhan standar formal, tetapi juga harus mengukur hasil dari setiap kegiatan konservasi. “Masalahnya, selama ini kita lebih banyak mengukur aktivitas — bukan dampaknya. Kita tahu berapa banyak pelatihan yang dilakukan, tapi tidak tahu apakah air sungai makin bersih atau populasi satwa seperti orangutan bertambah,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam skema RSPO maupun ISPO, pengelolaan High Conservation Value (HCV) masih menjadi tantangan besar. Banyak perusahaan yang sudah menetapkan area konservasi, namun belum melakukan pengelolaan dan pemulihan ekosistem secara aktif. “Kita perlu bergerak dari sekadar kepatuhan menjadi restorasi. Dari mengurangi dampak menjadi memperbaiki kondisi ekosistem,” katanya.

Simon juga menyinggung pentingnya menjaga konektivitas lanskap untuk mencegah fragmentasi habitat. Ia memberi contoh tentang populasi orangutan yang terancam punah karena habitatnya terpisah menjadi area kecil yang tidak mampu menopang kehidupan satwa tersebut. “Jika satu kelompok hanya berisi lima individu dan tidak ada interaksi dengan populasi lain, maka spesies itu akan punah dalam diam,” ujarnya.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalteng Periode I-Oktober 2025 Naik Tipis Cenderung Stagnan

Lebih jauh, Simon mengingatkan bahwa upaya menjaga keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku industri, melainkan juga setiap individu. “Terlalu mudah menyalahkan pemerintah. Padahal, tanggung jawab utama pemerintah adalah menciptakan ruang bagi warganya untuk bertindak. Kita semua, sebagai warga dunia, punya peran dalam menjaga bumi,” tegasnya.

Ia menutup dengan pesan reflektif: “Kita sering menunggu ‘garis api’ untuk bertindak, padahal kita semua sudah memegang korek apinya sendiri. Saatnya berhenti menunggu dan mulai bergerak bersama.”

Melalui pandangannya, Simon Bruslund mengajak dunia untuk melihat minyak sawit tidak lagi sebagai musuh, melainkan sebagai komoditas yang bisa menjadi bagian dari solusi global — jika dikelola dengan prinsip transparansi, kolaborasi, dan tanggung jawab lintas generasi. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com