InfoSAWIT, ACEH — Ribuan kilometer jalan produksi di dalam kebun kelapa sawit milik petani swadaya di Provinsi Aceh dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir rob dan hujan deras dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menyebabkan aktivitas pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) sawit ke pabrik maupun ke jalan raya utama terhambat serius.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Aceh, Abubakar AR, mengungkapkan bahwa rusaknya jalan kebun membuat truk pengangkut tidak mampu menjangkau lokasi kebun petani. Akibatnya, banyak hasil panen tidak bisa dikeluarkan dan menimbulkan kerugian besar bagi petani.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Banyak TBS petani tidak bisa diangkut karena truk tidak dapat masuk ke kebun. Jalan produksi rusak berat dan tidak layak dilalui,” ujar Abubakar kepada InfoSAWIT, Senin (15/12/2025).
BACA JUGA: POPSI Minta Penertiban Kawasan Hutan Berkeadilan, Petani Sawit Jangan Jadi Korban
Lebih lanjut, Abubakar menjelaskan bahwa keterbatasan akses jalan tersebut memaksa sebagian petani menghentikan aktivitas panen. TBS yang tidak segera dipanen akhirnya membusuk di pohon atau rontok dengan sendirinya, sehingga menurunkan kualitas dan nilai jual hasil kebun.
“Banyak petani memilih tidak memanen karena hasilnya tidak bisa keluar. TBS akhirnya busuk di pohon dan jatuh sendiri. Ini jelas kerugian nyata bagi petani sawit swadaya,” katanya.
SPKS Aceh mendesak Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) agar mempermudah akses pemanfaatan dana yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan langsung oleh petani melalui kelembagaan petani di tingkat kabupaten untuk pembangunan dan perbaikan jalan kebun.
BACA JUGA: KLH/BPLH Segel Kebun dan Pabrik Sawit PT TBS di Tapanuli Tengah Pascabanjir
Menurut Abubakar, kondisi ini sudah masuk kategori darurat, terutama di wilayah yang terdampak paling parah seperti Kecamatan Langkahan, Kecamatan Simpang Keramat, serta beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Aceh Utara. Selain itu, kerusakan serupa juga terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur yang mewakili wilayah timur Provinsi Aceh.
“Kami meminta BPDP merespons cepat kebutuhan perbaikan jalan kebun petani. Perlu diingat, sumber dana BPDP berasal dari hasil penjualan TBS yang diolah menjadi CPO, yang juga merupakan milik petani kelapa sawit di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Selain kepada pemerintah pusat, SPKS Aceh juga meminta Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, serta seluruh dinas yang membidangi perkebunan di tingkat kabupaten, untuk mempermudah proses pengusulan bantuan dari petani. Ia menegaskan agar tidak ada kesan memperlambat atau mempersulit pengajuan yang diajukan oleh lembaga petani.
BACA JUGA: Petani Sawit SPKS Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Utara
“Usulan petani harus segera ditindaklanjuti. Jangan diperlambat, apalagi dipersulit. Jika tidak ada respons cepat, kami khawatir kepercayaan petani terhadap kinerja dinas terkait akan semakin menurun,” pungkas Abubakar. (T2)




















