Program Biodiesel, GAPKI Tekankan Pentingnya Produktivitas Sawit dan Iklim Positif  

oleh -1.983 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Mochamad Husni, bagian Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

InfoSAWIT, DEPOK – Defisit Bahan Bakar Minyak (BBM) terus membengkak, sementara isu pemanasan global dan degradasi lingkungan kian mendesak. Dunia, terutama Eropa dan Amerika Serikat, mulai menata ulang kebijakan energinya. Biodiesel menjadi kata kunci. Uni Eropa menerapkan campuran biodiesel B5 hingga 2010, lalu meningkat ke B10 pada tahun-tahun berikutnya.

“Waktu itu, permintaan sawit global melonjak, mendahului kemampuan produksi,” kata Mochamad Husni, bagian Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) saat ditemui InfoSAWIT usai menjadi narasumber dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026, di Depok, Kamis (5/2).

Selama ini, kendaraan bermotor adalah konsumen BBM terbesar sekaligus penyumbang utama polusi udara—terutama di kota sepadat Jakarta. Penelitian yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sekarang BRIN, bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan pemanfaatan biodiesel mampu menurunkan emisi polutan kendaraan bermotor antara 23 hingga 90 persen, tergantung jenis polutan.

BACA JUGA: HLIB Pertahankan Proyeksi Harga CPO RM4.200 per Ton

“Angka-angka itu memberi legitimasi ilmiah bahwa biodiesel bukan sekadar alternatif darurat, melainkan bagian dari solusi struktural,” lanjut Husni.

Sejak 2009, skema subsidi bahan bakar nabati mulai diterapkan. Penguatan kelembagaan menyusul dengan berdirinya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPPDKS) sekarang BPDP. Dana triliunan rupiah dialokasikan untuk menopang program mandatori biodiesel. Campuran biodiesel meningkat bertahap: B15 pada 2015, B20 pada 2016, B30 pada 2020, B35 pada 2023, dan direncanakan mencapai B40 pada 2025–2026. Kurva kebijakan ini menanjak konsisten. Namun, di baliknya tersimpan pertanyaan mendasar: dari mana bahan bakunya?

Dari data GAPKI, tercatat bahwa kebutuhan CPO untuk biodiesel melonjak drastis. Tahun 2020, kebutuhan bahan baku biodiesel sekitar 7,4 juta ton. Lima tahun kemudian, angkanya hampir dua kali lipat menjadi 13,2 juta ton. Pada saat yang sama, kebutuhan sawit untuk pangan juga terus meningkat.

BACA JUGA: Meluruskan Klaim 4 Juta Hektare Sawit Ilegal di Kawasan Konservasi

Data GAPKI juga menggambarkan bahwa pada 2020 kebutuhan sawit untuk pangan mencapai sekitar 8,4 juta ton—relatif seimbang dengan biodiesel kala itu. Namun pada 2025, kebutuhan pangan sekitar 10 juta ton, jauh lebih kecil dibanding kebutuhan biodiesel yang menembus sekitar 13,2 juta ton.

Di titik inilah paradoks itu menguat. Program biodiesel dinilai berhasil, tetapi keberhasilannya menuntut pasokan bahan baku yang kian besar. Masalahnya, produksi sawit Indonesia justru mengalami stagnasi. Pada tahun 2024 dan 2025 produksi CPO berturut-turut hanya 52,76 juta ton dan 53 juta ton.  Dari angka ini, 25 juta ton CPO dikonsumsi dalam negeri, dengan sebagian besar untuk biodisel (52%) diikuti untuk pangan (40%) dan oleokimia (8 %). Di saat yang sama, luas perkebunan sawit dalam10 tahun terakhir tidak bergerak di angka 15-16 jutaan ha dengan angka produksi CPO/ha rata-rata sekitar 3,3 juta ton.  Padahal, konsumsi minyak sawit dunia akan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk bumi dan kebutuhan.  Jika stagnasi ini berlanjut sementara konsumsi domestik terus meningkat, pasokan untuk pasar global akan tergerus. Daya saing Indonesia—terutama terhadap Malaysia—pun terancam, termasuk di pasar strategis seperti Amerika Serikat.

Untuk industri yang konsisten dengan prinsip keberlanjutan seperti yang didengungkan GAPKI, jawabannya bukan pada perluasan lahan untuk kebun sawit. Ruang itu semakin sempit, baik secara ekologis maupun politis. Kuncinya ada pada produktivitas. Pertanyaannya, seberapa jauh produksi minyak nabati dapat ditingkatkan?, sementera persoalan umur sawit yang menua, produksi sawit rakyat yang rendah, dan di saat yang sama tidak semua lahan  yang ada tidak seluruhnya dapat mendukung produksi sawit yang optimal, misalnya lahan gambut.

BACA JUGA: Dorong Swasembada Pangan Nasional, Komisi IV DPR RI Tekankan Inovasi Lokal dan Peran Akademisi

Upaya peningkatan produktivitas kini bergerak ke ranah yang lebih teknis—bahkan biologis. Industri mendorong introduksi serangga penyerbuk yang lebih agresif untuk meningkatkan pembentukan buah. Di Medan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tengah mengembangkan tiga jenis utama serangga penyerbuk: Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius plagiatus, dan Elaeidobius subvittatus, termasuk introduksi penyerbuk baru dari Tanzania. Harapannya sederhana tetapi krusial: produktivitas naik tanpa harus membuka kebun baru. Intensifikasi.

“Harapan kita, produktivitas bisa naik,” ujar Husni.

Memang, pada akhirnya, biodiesel bukan sekadar soal energi. Ia adalah simpul tempat kepentingan pangan, lingkungan, industri, dan geopolitik saling berkelindan. Menjaga iklim positif bagi industri sawit nasional, menurut Husni, menjadi kunci. Apalagi, sawit dengan amat nyata telah memberi kontribusi besar bagi ekonomi Indonesia—lapangan kerja, devisa, hingga penguatan pasar domestik melalui biodiesel. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com