Kedelai AS Lebih Mahal, China Hadapi Dilema Impor di Tengah Manuver Diplomatik

oleh -10.984 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi tanaman kedelai.

InfoSAWIT, BEIJING – Importir kedelai China menghadapi lonjakan biaya signifikan apabila harus mendatangkan tambahan sekitar 8 juta ton kedelai asal Amerika Serikat, di tengah musim puncak ekspor Brasil yang menawarkan harga jauh lebih kompetitif. Kondisi ini menciptakan dilema antara pertimbangan komersial dan kepentingan diplomatik Beijing.

Meski secara bisnis dinilai kurang menarik, pelaku pasar menilai pemerintah China berpotensi tetap menginstruksikan pembelian kedelai AS melalui perusahaan negara guna merespons sinyal politik dari Presiden Donald Trump, yang menyebut Beijing tengah mempertimbangkan pembelian besar menjelang rencana kunjungannya ke China pada April mendatang.

“Apakah ada logika pasar bagi China untuk membeli lebih banyak kedelai AS saat panen Brasil baru masuk? Tidak,” ujar Even Rogers Pay, Direktur konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Minggu (8/2/2026). “Namun apakah langkah itu bisa memperlancar kunjungan kenegaraan Trump agar lebih produktif dan menguntungkan? Mungkin saja.”

BACA JUGA: UMKM Bisa Jadi Tulang Punggung Sawit Keberlanjutan

Harga kedelai acuan di Chicago Board of Trade tercatat mendekati level tertinggi dua bulan terakhir, didorong ekspektasi meningkatnya permintaan dari China. Trump bahkan menyatakan China mempertimbangkan pembelian hingga 20 juta ton kedelai AS pada musim berjalan, usai pembicaraan yang ia sebut “sangat positif” dengan Presiden Xi Jinping.

Namun, secara harga, pasokan Brasil tetap unggul. Kedelai AS untuk pengiriman April ditawarkan dengan premi sekitar US$2,08–US$2,48 per bushel di atas kontrak Mei di CBOT, termasuk biaya dan angkut ke China. Sementara itu, kedelai Brasil hanya berada di kisaran US$1,18–US$1,33 per bushel. Selisih tersebut setara sekitar US$50 per ton dalam basis FOB.

“Dengan spread seperti ini, pembelian kedelai AS tidak masuk akal secara komersial,” kata seorang pedagang di Singapura. Pada level harga tersebut, China diperkirakan harus membayar hingga US$400 juta lebih mahal untuk 8 juta ton kedelai AS dibandingkan pasokan dari Brasil.

BACA JUGA: Hampir 59% Pasar Dunia, Sawit Indonesia Jadi Penentu Arah Minyak Nabati Global

Situasi semakin kompleks karena China masih memberlakukan tarif impor 13% untuk kedelai AS, jauh di atas tarif 3% untuk kedelai Brasil. Akibatnya, pabrik pengolahan swasta hampir tidak menunjukkan minat. Sejak musim pemasaran yang dimulai September lalu, tidak satu pun pembeli swasta China tercatat membeli kargo kedelai AS, dengan margin pengolahan di pusat industri Rizhao masih negatif sejak Agustus.

Sebaliknya, pembelian lebih banyak dilakukan oleh perusahaan milik negara. Sinograin dan COFCO dilaporkan telah membeli sekitar 12 juta ton kedelai AS sejak pembicaraan dagang dimulai Oktober lalu, meski harus membayar hampir US$100 juta lebih mahal dibandingkan jika membeli dari Brasil.

Untuk mengakomodasi kedatangan pasokan tersebut, Sinograin sejak Desember telah menggelar empat lelang, melepas sekitar 2 juta ton kedelai impor dari cadangan nasional. Pelaku pasar memperkirakan lelang tambahan akan kembali digelar setelah libur Tahun Baru Imlek bulan ini. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com