Krisis Energi Tekan Impor Minyak Nabati India, Permintaan Turun Tajam

oleh -8.060 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Bulking storage CPO.

InfoSAWIT, NEW DELHI – India, sebagai importir terbesar minyak nabati dunia, mulai memangkas volume impor seiring lonjakan harga dan gangguan pasokan energi akibat konflik di Iran yang berkepanjangan.

Perang di kawasan Timur Tengah selama sebulan terakhir telah mengganggu rantai pasok energi global dan memicu krisis bahan bakar di sejumlah negara Asia, termasuk India. Salah satu dampak paling terasa adalah kelangkaan gas LPG yang menghambat aktivitas industri makanan dan minuman di negara tersebut.

Banyak pelaku usaha kuliner di kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai, hingga Bangalore terpaksa mengurangi operasional atau beralih menggunakan bahan bakar alternatif seperti minyak tanah dan kayu bakar.

BACA JUGA: Uni Eropa Perketat Klaim “Hijau”, RSPO Ingatkan Industri Sawit Hindari Istilah Menyesatkan

Vice President Patanjali Foods Ltd., Aashish Acharya, mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen konsumsi minyak nabati di India berasal dari sektor hotel, restoran, dan katering. Pelemahan sektor ini langsung berdampak pada penurunan permintaan secara signifikan.

“Permintaan minyak nabati India diperkirakan turun sekitar 250.000 hingga 300.000 ton per bulan, dan bisa terus menurun jika konflik berkepanjangan serta pasokan LPG komersial tetap terbatas,” jelasnya dilansir InfoSAWIT dari Bloomberg, Jumat (3/4/2026).

Ia juga menyoroti keterkaitan erat antara dinamika geopolitik global dengan perubahan pola konsumsi domestik di India.

BACA JUGA: Mulai Juli 2026, B50 Resmi Diterapkan, Hemat 4 Juta KL BBM dan Dorong Surplus Solar

“Situasi ini menunjukkan bagaimana peristiwa geopolitik dapat berdampak langsung pada pasar lokal serta pola konsumsi masyarakat,” tambahnya.

Kenaikan harga turut memperparah kondisi. Harga minyak nabati domestik dilaporkan melonjak hingga 17 persen dalam sebulan terakhir, dipicu pelemahan mata uang, kenaikan biaya logistik, serta tarif pengiriman yang lebih tinggi.

Di sisi lain, biaya impor minyak nabati juga meningkat sekitar 25 persen, menurut President Emami Agrotech Ltd., Mayur Toshniwal. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan pembelian.

“Permintaan akan turun pada level harga setinggi ini,” ujarnya.

BACA JUGA: HIP Biodiesel April 2026 Ditetapkan Rp14.262 per Liter

Data menunjukkan impor minyak nabati India pada Maret diperkirakan turun menjadi sekitar 1,2 juta ton, dibandingkan 1,32 juta ton pada bulan sebelumnya. Executive Director Solvent Extractors’ Association of India, B.V. Mehta, menyebutkan bahwa konsumsi di wilayah perkotaan masih akan tertekan selama krisis LPG belum teratasi.

Perubahan perilaku konsumen juga mulai terlihat, dengan lebih banyak masyarakat beralih memasak di rumah. Konsumsi minyak kedelai, bunga matahari, dan rapeseed meningkat di tingkat rumah tangga, meskipun secara keseluruhan pembelian tetap terbatas akibat tingginya harga.

“Permintaan kini bersifat harian karena pelaku pasar enggan menumpuk stok di tengah harga tinggi,” kata Toshniwal.

BACA JUGA: Agrinas Palma dan KPBN Perkuat Transparansi Harga Sawit Lewat Skema E-Bidding

Penurunan permintaan dari India ini berpotensi memberikan tekanan bagi negara eksportir utama minyak nabati, termasuk Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam menjaga stabilitas pasar global di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com