InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan menghadapi kondisi curah hujan rendah hingga menengah selama periode Agustus–Oktober 2026. Kondisi tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh masih berlangsungnya fenomena El Niño yang berpotensi mengurangi intensitas hujan di sejumlah daerah penghasil sawit nasional.
Dilansir InfoSAWIT dari Buletin Informasi Iklim Perkebunan Komoditas Sawit BMKG, Kamis (23/7/2026), Indonesia sebagai produsen sekitar 57 persen minyak sawit dunia memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi iklim karena produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan pola curah hujan.
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan komoditas strategis nasional yang menghasilkan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO). Selain menjadi penyumbang devisa negara, industri ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja dan penggerak ekonomi pedesaan, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
BACA JUGA: GAPKI Dorong Riset Sawit Berorientasi Solusi, Fokus Jawab Tantangan Industri Berkelanjutan
El Niño Masih Bertahan, Perairan Indonesia Tetap Hangat
BMKG mencatat hasil pemantauan dinamika atmosfer dan laut pada Juni 2026 menunjukkan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kondisi netral dengan nilai Dipole Mode Index (DMI) -0,38. Sementara itu, anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik Tengah Ekuator atau wilayah Niño 3.4 mencapai +1,56, yang mengindikasikan kondisi El Niño masih berlangsung.
Di sisi lain, suhu muka laut di perairan Indonesia masih relatif hangat, terutama di Samudra Hindia bagian selatan Jawa hingga Laut Timor, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Arafura, dan perairan utara Papua. Kondisi tersebut tetap memberikan suplai uap air, namun belum mampu mengimbangi pengaruh El Niño terhadap pembentukan hujan di berbagai wilayah.
Curah Hujan Diprediksi Didominasi Kategori Rendah
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah selama Agustus hingga Oktober 2026.
Pada Agustus 2026, sekitar 71,55 persen wilayah Indonesia diprediksi menerima curah hujan rendah, 28,31 persen berada pada kategori menengah, sedangkan hanya 0,14 persen yang diperkirakan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.
Memasuki September, wilayah dengan curah hujan rendah diproyeksikan meningkat menjadi 77,46 persen, sementara kategori menengah mencapai 21,26 persen, dan kategori tinggi hingga sangat tinggi sekitar 1,28 persen.
Kondisi mulai berubah pada Oktober 2026 ketika distribusi hujan diperkirakan lebih merata. BMKG memperkirakan 52,33 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori menengah, 42,20 persen kategori rendah, dan 5,47 persen berpotensi menerima hujan tinggi hingga sangat tinggi.
Untuk wilayah sentra perkebunan sawit, BMKG memproyeksikan curah hujan selama Agustus hingga Oktober umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, sehingga perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan kebun, terutama terkait konservasi air dan pemeliharaan tanaman.
Sifat Hujan Cenderung Lebih Kering dari Normal
Selain jumlah curah hujan, BMKG juga memprediksi sifat hujan pada periode Agustus–Oktober 2026 didominasi kondisi Bawah Normal, atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Pada Agustus, sekitar 86,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami hujan di bawah normal. Angka tersebut meningkat menjadi 87,61 persen pada September, sebelum sedikit menurun menjadi 81,24 persen pada Oktober.
