InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja ekspor Indonesia kembali menunjukkan pertumbuhan pada Juli 2026, dengan sektor nonmigas menjadi penopang utama neraca perdagangan nasional. Nilai ekspor nonmigas pada Juli 2026 mencapai USD25,43 miliar, meningkat 4,25% dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,84% secara tahunan.
Kementerian Perdagangan mencatat, secara keseluruhan nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar. Angka tersebut naik 2,98% dibandingkan Juni 2026 dan meningkat 6,05% dibandingkan Juli 2025.
Pertumbuhan ekspor tersebut turut menopang neraca perdagangan Indonesia yang pada Juli 2026 mencatat surplus USD0,12 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas sebesar USD3,10 miliar yang mampu mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar USD2,98 miliar.
BACA JUGA: PSR Kutai Timur Dipercepat, 1.900 Hektare Sawit Rakyat Disiapkan Menuju Sertifikasi ISPO
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas,” ujar Budi Santoso, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Jumat (4/9/2026).
Lemak dan Minyak Nabati Sumbang Surplus Terbesar
Dari sisi komoditas, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi salah satu penopang penting surplus perdagangan nonmigas Indonesia.
BACA JUGA: Karhutla Kalimantan Barat Berulang, Link-AR Borneo Soroti Ekspansi Sawit dan Ketimpangan Lahan
Sepanjang Januari–Juli 2026, kelompok komoditas tersebut mencatat surplus perdagangan sebesar USD20,96 miliar. Nilai tersebut menempatkan lemak dan minyak hewani/nabati sebagai penyumbang surplus terbesar, disusul bahan bakar mineral (HS 27) sebesar USD16,39 miliar dan besi serta baja (HS 72) sebesar USD10,32 miliar.
Pada Juli 2026, ketiga kelompok komoditas tersebut secara keseluruhan menyumbang surplus nonmigas sebesar USD7,90 miliar.
Namun, dari sisi pertumbuhan bulanan, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati justru mengalami penurunan ekspor sebesar 6,21% pada Juli 2026. Penurunan tersebut berbeda dengan sejumlah komoditas lain yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi, seperti mesin dan peralatan mekanis yang naik 23,05%, tembaga dan barang daripadanya 21,20%, serta pakaian dan aksesorinya bukan rajutan 20,65%.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-Agustus 2026 Naik Rp42,97 per Kg
Ekspor Januari–Juli Capai USD167,03 Miliar
Secara kumulatif, kinerja ekspor Indonesia selama Januari–Juli 2026 tetap tumbuh. Nilai ekspor mencapai USD167,03 miliar, meningkat 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai USD160,01 miliar, atau tumbuh 5,21% secara kumulatif.
Kementerian Perdagangan menyebut sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor Indonesia. Pada Januari–Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 82,18% terhadap total ekspor.
BACA JUGA: HR CPO September 2026 Naik Jadi US$1.007,51, BK US$148 dan PE 12,5 Persen
Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang 11,73%, migas 4,20%, sedangkan sektor pertanian sebesar 1,89%.
Menurut Mendag Budi Santoso, dominasi industri pengolahan menunjukkan pentingnya peningkatan nilai tambah produk domestik untuk memperkuat daya saing ekspor Indonesia.
“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” katanya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Tipis pada Rabu (2/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Dari sisi pasar, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia selama Januari–Juli 2026, disusul Amerika Serikat dan India. Pertumbuhan ekspor nonmigas juga tercatat tinggi ke Hong Kong sebesar 36,79%, Turki 30,58%, dan Thailand 21,92%.
Dengan capaian tersebut, pemerintah menilai penguatan daya saing, peningkatan nilai tambah serta diversifikasi pasar ekspor menjadi bagian penting untuk menjaga momentum pertumbuhan perdagangan Indonesia. (T2)
