Satu Kelola Bentang Alam: Kunci Indonesia Atasi Tantangan Pangan, Energi, dan Iklim

oleh -5.560 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Dr. Petrus Gunarso.

InfoSAWIT, JAKARTA — Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga tantangan strategis nasional secara simultan: ketahanan pangan, kemandirian energi, dan ketahanan iklim. Sebagai negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim, Indonesia pada dasarnya memiliki keunggulan komparatif pengelolaan lingkungan yang lebih efisien dibandingkan negara-negara dengan empat musim.

Namun, keberhasilan mengatasi ketiga tantangan geopolitik dan ekonomi ini sangat bergantung pada kepastian tata kelola ruang serta bentang alam secara berkelanjutan.

Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Dr. Petrus Gunarso, menegaskan bahwa akar tantangan ekologi dan pembangunan nasional tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang terpisah. Melainkan harus dipandang sebagai satu kesatuan bentang alam (lanskap).

BACA JUGA: Posisi Petani Sawit Lemah dalam Ekosistem Industri Sawit

“Pendekatan kita harus bergeser. Persoalan hari ini bukan sekadar tentang kebun sawit semata, melainkan persoalan tata kelola bentang alam secara utuh dan terintegrasi,” ujar Dr. Petrus Gunarso dalam Forum Diskusi Terbatas (FDT) yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di IPB University, Bogor, dihadiri InfoSAWIT, Senin (31 Agustus 2026).

Petrus memaparkan bahwa tata kelola lanskap berkelanjutan wajib mengintegrasikan seluruh elemen ruang secara proporsional dan memiliki kepastian hukum, yang mencakup: kawasan konservasi, hutan produksi, perkebunan kelapa sawit, pertanian pangan, dan sungai serta daerah aliran sungai.

“Penetapan proporsi area perlindungan ekosistem harus jelas dan terlindungi. Juga perlu optimalisasi budidaya sektor kehutanan yang lestari,”kata Petrus dalam FDT bertema “Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan”  tersebut.

BACA JUGA: Eksplorasi Konsep Nexus Baru (7 TAS+): Solusi Holistik Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Indonesia

Terkait perkebunan sawit, kata Petrus, perlu kepastian luas area komoditas strategis nasional secara presisi. Perlindungan dan peningkatan produktivitas lahan pangan berbasis kekuatan 7 juta hektar sawah nasional juga harus diperhatikan,” katanya.

Petrus mengatakan, penataan ruang pemukiman yang tumbuh seiring dinamika demografi, ditopang jaringan jalan dan jembatan yang terencana juga menjadi bagian dari strategi yang dilakukan.

Ia menambahkan bahwa kepastian ruang merupakan prasyarat mutlak untuk menjalankan aksi iklim yang terukur dan efisien.

BACA JUGA: Produksi Sawit Indonesia 2026 Diproyeksikan Tembus 50,31 Juta Ton (Bagian 1)

“Ketika ruang telah pasti, maka konservasi dapat dijalankan, potensi serapan karbon dapat dihitung secara akurat, biodiversitas dapat dilindungi, ketahanan iklim dapat dibangun, dan industri sawit dapat berkontribusi nyata bagi kedaulatan pangan serta energi nasional,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Petrus menekankan bahwa integrasi antar-komponen ini memerlukan komitmen lintas sektor. Semua fungsi strategis—mulai dari penataan ruang, konservasi hayati, perhitungan karbon, hingga transformasi sawit—hanya dapat dilakukan jika bentang alam dikelola dalam satu kerangka tata kelola yang pasti, inklusif, dan berkelanjutan. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com