Eksplorasi Konsep Nexus Baru (7 TAS+): Solusi Holistik Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Indonesia

oleh -4.068 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hariyadi.

InfoSAWIT, BOGOR — Industri kelapa sawit Indonesia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan kontribusi ekonominya yang vital dan memenuhi tuntutan keberlanjutan global.

Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hariyadi, M.S, memaparkan urgensi pemikiran ulang tata kelola industri ini melalui pandangan “Nexus Baru (7 TAS+)” dalam Forum Diskusi Terbatas yang diselenggarakan oleh Rumah Sawit Indonesia (RSI) di Bogor, dihadiri InfoSAWIT, Senin (31 Agustus).

Dalam pemaparannya, Prof. Hariyadi menegaskan bahwa pendekatan parsial yang berfokus semata-mata pada peningkatan produksi atau isu lingkungan terbukti tidak lagi memadai. Pengelolaan kelapa sawit membutuhkan pendekatan lintas dimensi yang saling terintegrasi secara utuh.

BAAC JUGA: 174 Petani Sawit OKU Ikuti Pelatihan Budi Daya di Palembang, Perkuat Kompetensi dari Pembibitan hingga Pengendalian Hama

Prof Hariyadi memaparkan, tantangan industri sawit saat ini semakin kompleks, melingkupi konflik agraria, tekanan legalitas lahan, isu deforestasi, efisiensi energi, hingga ketatnya standar keterlacakan (traceability) pasar internasional. Kerangka Nexus Baru diposisikan sebagai jawaban transformatif atas kompleksitas tersebut.

“Keberlanjutan bukan lagi sekadar persoalan produksi minyak sawit atau isu lingkungan semata. Keberlanjutan adalah tentang keterkaitan dinamis dan saling memengaruhi antara aspek ekonomi, lingkungan, sosial, tata ruang, hingga kelembagaan,” ujar Prof. Hariyadi.

Konsep Nexus Baru, kata dia, melihat tata kelola sawit melalui keterkaitan erat antar-dimensi kunci yaitu lingkungan, ekonomi, sosial, tata kelola,

BACA JUGA: Produksi Sawit Indonesia 2026 Diproyeksikan Tembus 50,31 Juta Ton (Bagian 1)

Penanganan isu deforestasi, perlindungan keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, pemulihan tanah dan air, serta kebutuhan pangan dan energi.

“Aspek lingkungan terkait pengelolaan limbah. Ekonomi tentang peningkatan produktivitas dan efisiensi, penguatan daya saing, penyerapan nilai tambah downstream, ekspansi ekspor, serta jaminan keberlanjutan pendapatan pelaku usaha dan petani,” katanya.

Sedangkan aspek sosial, kata Prof. Hariyadi, terkait kesejahteraan petani swadaya, perlindungan hak tenaga kerja, pemenuhan hak masyarakat adat/lokal, penyelesaian konflik agraria, dan pembangunan wilayah inklusif.

BACA JUGA: Perusahaan Sawit Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla Sebelum Puncak Kemarau 2026

“Penegakan kepastian hukum, penyelesaian legalitas lahan, transparansi rantai pasok (traceability), akuntabilitas kelembagaan, dan partisipasi aktif pemangku kepentingan juga sangat penting.  Keseimbangan peran sawit dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus transisi energi terbarukan melalui program biodiesel tanpa mengorbankan alokasi tata ruang lahan.”

Melalui pendekatan integratif ini, kata dia, satu kebijakan tidak boleh lagi dibuat secara terisolasi. Penentu kebijakan dan pelaku industri dituntut memperhitungkan dampak silang antar-dimensi agar setiap regulasi yang diterapkan menghasilkan dampak positif yang berimbang. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com