Perusahaan juga memastikan sampah yang disalurkan tidak tercampur dengan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Langkah pemilahan sejak sumber tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Sampah yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya akan lebih mudah untuk diproses, dimanfaatkan kembali maupun memiliki nilai jual.
Pasokan Sampah dan Nilai Tambah bagi Masyarakat
Menurut Widiyanto, salah satu persoalan yang kerap dihadapi unit pengelola sampah adalah kesinambungan pasokan material. Melalui kerja sama ini, perusahaan berupaya memberikan kepastian pasokan sampah yang dapat dikelola oleh TPS3R.
BACA JUGA: Produksi Sawit Indonesia 2026 Diproyeksikan Tembus 50,31 Juta Ton (Bagian 1)
“Perusahaan dapat menjamin pasokan sampah ke TPS3R yang selama ini menjadi kendala utama keberlanjutan unit pengelola sampah. Di sisi lain masyarakat mendapatkan nilai tambah dari pengelolaannya,” kata Widiyanto.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat.
Dengan keterlibatan perusahaan, pemerintah daerah dan masyarakat, TPS3R Sembuluh I diharapkan tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga berkembang sebagai unit pengelolaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Pupuk Organik Jadi Strategi Efisiensi, Industri Sawit Nasional Tetap Optimistis
Bagi wilayah perkebunan seperti Kabupaten Seruyan, model kolaborasi semacam ini dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mempertemukan kepentingan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Sampah yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan dapat diolah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga. (T2)




















