Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara, Muhammad Reza, menyatakan model pendampingan dan kolaborasi Kembang Janggut dapat menjadi pembelajaran untuk pengembangan UMKM di wilayah lainnya.
UMKM Center Kembang Janggut selanjutnya diarahkan tidak hanya menjadi ruang display produk. Wadah tersebut diharapkan berfungsi sebagai pusat pendataan, konsultasi, kurasi, promosi, sekaligus penghubung pelaku usaha dengan pasar dan lembaga pembiayaan.
Dalam 90 hari setelah workshop, para pihak diharapkan mulai melakukan validasi data dan produk prioritas, meningkatkan mutu serta kemasan, melakukan uji pasar, dan membangun saluran pemasaran.
Keberhasilan OVOP pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya produk yang dipamerkan, tetapi dari kemampuan produk desa memperoleh pasar berkelanjutan, meningkatkan pendapatan pelaku usaha, dan mempertahankan nilai tambah di tengah masyarakat. (T2)




















