InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia memasuki babak baru pada 2026. Untuk pertama kalinya dalam proyeksi tahunan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), konsumsi domestik diperkirakan menyerap porsi lebih besar dibandingkan ekspor, menandai semakin kuatnya peran sawit dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk program biodiesel B50.
Dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026 bertajuk “Menjaga Ruang Tumbuh di Tengah Keseimbangan Baru”, yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026, IPOSS memproyeksikan konsumsi domestik mencapai 51,3% dari total penggunaan minyak sawit nasional sepanjang 2026. Sementara itu, porsi ekspor diperkirakan sebesar 48,7%.
Perubahan tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan produksi yang relatif terbatas. IPOSS memperkirakan produksi minyak sawit nasional sepanjang 2026 mencapai 52,4 juta ton, meningkat hanya 1,86% dibandingkan 2025.
BACA JUGA: Menkeu Dorong Investasi Swasta di Industri Sawit untuk Tingkatkan Produktivitas dan Lapangan Kerja
Di sisi lain, konsumsi domestik diproyeksikan naik 7,4% menjadi sekitar 27,1 juta ton. Peningkatan ini terutama didorong oleh bertambahnya kebutuhan bahan baku biodiesel seiring implementasi B50 sejak Juli 2026.
Perbedaan laju pertumbuhan produksi dan kebutuhan domestik tersebut menunjukkan semakin ketatnya ruang alokasi pasokan minyak sawit nasional. Kondisi ini menghadirkan tantangan dalam menjaga ketersediaan bahan baku di dalam negeri sekaligus mempertahankan ruang ekspor.
“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting bagi Indonesia. Tantangannya adalah memastikan produksi sawit mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan domestik, sehingga penguatan ketahanan energi tidak terus mempersempit ruang ekspor,” ujar Direktur IPOSS Nanang Hendarsah dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (15/10/2026).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II Oktober 2026 Naik, Umur 10–20 Tahun Tembus Rp3.764,98 per Kg
IPOSS menilai, peningkatan kebutuhan minyak sawit domestik perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas produksi nasional. Dengan demikian, pemanfaatan sawit untuk mendukung ketahanan energi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan perdagangan ekspor.
Melalui Outlook Q4 2026, IPOSS mengajak para pemangku kepentingan melihat ketahanan energi, keberlanjutan ekspor, dan peningkatan produktivitas sebagai agenda yang saling mendukung dalam menjaga daya saing industri sawit Indonesia. (T2)
