InfoSAWIT, JAKARTA – European Biodiesel Board (EBB) menyambut baik usulan pemerintah Jerman dan Prancis terkait standar emisi karbon dioksida (CO₂). Organisasi yang mewakili produsen biodiesel Eropa tersebut menilai usulan itu mengakui peran penting bahan bakar terbarukan berkelanjutan dalam menekan emisi sektor transportasi jalan raya di Uni Eropa.
Dilansir InfoSAWIT dari Biofuels International, EBB menilai kesepakatan tersebut menjadi langkah maju menuju pendekatan netral teknologi dalam upaya mengurangi emisi. Meski demikian, organisasi itu menyebut masih terdapat sejumlah ketentuan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
EBB mewakili produsen fatty acid methyl ester (FAME), hydrotreated vegetable oil (HVO), serta hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA) yang digunakan dalam produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan berbasis biofuel atau bio-sustainable aviation fuel (bioSAF).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II Oktober 2026, Umur 10–20 Tahun Rp3.541 per Kg
Usulan Jerman dan Prancis tersebut mendukung target pengurangan emisi gas buang kendaraan hingga 90%. Pendekatan ini sekaligus mengakui bahwa penghentian sepenuhnya penggunaan mesin pembakaran internal berpotensi mengabaikan kontribusi bahan bakar terbarukan yang semakin berkembang dalam bauran energi Uni Eropa.
Kendati menyambut positif kesepakatan itu, EBB menyayangkan tidak dimasukkannya jalur alternatif maupun tambahan melalui mekanisme kredit bahan bakar terbarukan sebagaimana diusulkan dalam laporan Salini. Menurut organisasi tersebut, mekanisme kredit dapat memberikan insentif langsung untuk memperluas penggunaan bahan bakar terbarukan di sektor transportasi.
Kesepakatan itu juga memperkenalkan kategori baru kendaraan tanpa emisi yang secara eksklusif menggunakan bahan bakar terbarukan dan rendah karbon yang memenuhi persyaratan. Skema tersebut menawarkan jalur alternatif bagi industri otomotif untuk mencapai target ambisius pengurangan emisi transportasi jalan raya di Uni Eropa.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode III Oktober 2026 Naik, Umur 10–20 Tahun Capai Rp3.695,36 per Kg
Sekretaris Jenderal EBB, Xavier Noyon, mengatakan usulan tersebut merupakan kemajuan signifikan. Namun, ia menegaskan bahwa kelayakan bahan bakar harus tetap ditentukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam Renewable Energy Directive (RED), yakni regulasi energi terbarukan Uni Eropa.
Menurut Noyon, mengecualikan bahan baku yang telah memenuhi ketentuan RED berisiko melemahkan solusi yang saat ini sudah berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi.
EBB juga menyambut penekanan dalam usulan tersebut terhadap produksi bahan bakar di wilayah Uni Eropa. Organisasi itu menyatakan siap bekerja sama dengan para pembentuk undang-undang Uni Eropa untuk mendukung penerapan pendekatan tersebut.
BACA JUGA: 70 Petani Sawit Morowali Utara Belajar Mengolah Limbah Menjadi Pupuk Organik
Bagi industri biodiesel dan bahan bakar nabati, perkembangan ini menjadi sinyal penting bahwa bahan bakar terbarukan berpotensi memperoleh ruang lebih besar dalam strategi dekarbonisasi transportasi Eropa. Namun, implementasinya akan bergantung pada kejelasan kriteria kelayakan bahan bakar dan kebijakan yang mampu mendorong pemanfaatannya secara berkelanjutan. (T2)
