InfoSAWIT, MOROWALI UTARA – Pemanfaatan bahan organik di sekitar perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu keterampilan yang terus didorong untuk meningkatkan kapasitas petani sawit. Sebanyak 70 petani sawit di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mengikuti pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik pada 15–18 Oktober 2026.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan langsung pengolahan bahan organik menjadi pupuk padat dan cair. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan I dan II.
Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Salah satu agenda utama pelatihan adalah kunjungan lapangan ke Pupuk Organik Cipta Lestari. Di lokasi tersebut, peserta mempelajari karakteristik bahan baku, mengikuti tahapan pembuatan pupuk organik padat, serta mempraktikkan pengolahan pupuk organik cair.
Melalui kegiatan ini, petani memperoleh gambaran bahwa pengolahan limbah menjadi pupuk membutuhkan pemahaman mengenai proses dekomposisi, metode pengolahan, serta standar mutu yang harus diperhatikan. Kualitas pupuk tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi juga oleh ketepatan proses pembuatannya.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (18/10/2026), Sebelum praktik lapangan, peserta mendapatkan materi mengenai prinsip dasar pemupukan, fungsi unsur hara, karakteristik pupuk organik dan pupuk hayati, serta regulasi dan standardisasi pupuk organik. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami tahapan produksi hingga penggunaan pupuk di perkebunan.
Petani Sawit Pelajari Kualitas dan Aplikasi Pupuk
Pelatihan juga membahas penerapan pupuk organik pada tanaman, termasuk prinsip pemupukan tepat atau 5T, metode aplikasi, serta perhitungan biaya penggunaannya. Dengan demikian, peserta tidak hanya mempelajari cara membuat pupuk, tetapi juga memahami pentingnya menyesuaikan penggunaannya dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
Aspek kualitas turut menjadi perhatian. Peserta diperkenalkan pada pengujian praktis melalui pengamatan warna, bau, tekstur, kelembapan, dan pH pupuk organik. Indikator tersebut menjadi bekal awal untuk mengenali karakteristik pupuk sebelum digunakan.
Dalam pembukaan kegiatan, Dandy Alfita, S.Pt., M.P., yang mewakili Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, mendorong peserta agar menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menjadi pelopor pemanfaatan teknologi pupuk organik di daerah masing-masing.
BACA JUGA: KUB PMPL Minta Addendum II Kemitraan PT PCP Dievaluasi, Soroti Transparansi Keuangan
Kegiatan tersebut turut dihadiri Krispen Herbret Masu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Daerah Kabupaten Morowali Utara, serta Dr. Budi Nugroho, sebagai perwakilan IPB. Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) diwakili Dr. M. Apuk Isman, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan.
Melalui perpaduan teori, praktik, dan diskusi lapangan, pelatihan ini diharapkan memperkuat kemampuan petani sawit Morowali Utara dalam mengolah bahan organik dan memanfaatkannya secara lebih terarah. Keterampilan tersebut juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada komunitas petani di wilayah masing-masing.
Pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar perkebunan menjadi salah satu alternatif yang dapat dipelajari petani untuk mendukung pengelolaan kebun. Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan kualitas pupuk, kebutuhan tanaman, serta perhitungan biaya agar penggunaannya sesuai dengan kondisi perkebunan. (T2)
